Melihat orang terdekat mengalami kejang umumnya membuat siapa pun panik dan bingung harus berbuat apa. Tubuh yang tiba-tiba kaku, gerakan menyentak, hingga hilangnya kesadaran bisa membuat situasi terasa sangat menegangkan. Namun menurut dr. Fransiska Marshia Tarius, ada langkah pertolongan pertama saat kejang yang bisa dilakukan untuk mencegah cedera dan meminimalkan efek serius, asalkan dilakukan dengan cara yang benar. Simak informasinya berikut!
Bagaimana Kejang Bisa Terjadi?
Kejang terjadi saat aktivitas listrik di otak menjadi tidak teratur dan berlebihan. Gangguan ini membuat sinyal saraf bekerja secara abnormal sehingga memengaruhi gerakan tubuh, kesadaran, maupun fungsi lain. Kejang bisa disebabkan oleh berbagai kondisi seperti epilepsi, demam tinggi, infeksi otak, cedera kepala, stroke, tumor otak, gula darah rendah, dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, kurang tidur, hingga keracunan.
Berdasarkan gejalanya, kejang umumnya dibagi menjadi dua kategori, yaitu kejang ringan dan kejang parah. Kejang ringan, sering disebut kejang fokal sederhana, biasanya hanya memengaruhi sebagian tubuh. Gejalanya bisa berupa tatapan kosong, tampak bengong, sensasi kesemutan pada salah satu bagian tubuh, atau gerakan kecil berulang seperti mengunyah atau menjilat bibir. Pada jenis ini, penderita tetap sadar dan biasanya dapat mengingat kejadian setelahnya.
Sementara itu, kejang parah atau kejang umum melibatkan seluruh tubuh dan biasanya terjadi dalam dua fase. Fase pertama adalah tonik, saat otot menegang sehingga tubuh tiba-tiba menjadi kaku. Setelah itu masuk ke fase klonik, ditandai dengan gerakan menyentak berulang pada lengan dan kaki. Pada kejang parah, penderita kehilangan kesadaran, berisiko jatuh, menggigit lidah, atau buang air kecil tanpa disadari. Kejang parah umumnya berlangsung 30 detik hingga 2 menit, namun pada kondisi tertentu bisa lebih lama dan memerlukan penanganan segera.
Pertolongan Pertama saat Kejang
1. Rebahkan pasien di tempat yang aman
Pertolongan pertama saat kejang yang perlu dilakukan adalah memastikan pasien berada di tempat yang aman. Tujuan dari langkah ini adalah mencegah cedera akibat benturan atau jatuh. Rebahkan pasien di lantai atau permukaan datar, lalu singkirkan benda keras atau tajam di sekitarnya agar tidak melukai tubuhnya saat gerakan kejang terjadi. Meletakkan alas empuk seperti jaket yang digulung di bawah kepala membantu mengurangi risiko benturan berulang pada kepala.
2. Jauhkan kerumunan dari pasien
Saat seseorang kejang, penting untuk memberi ruang yang cukup. Menjauhkan kerumunan membantu menciptakan suasana lebih tenang, mengurangi stres, dan mencegah tindakan berbahaya yang kadang dilakukan oleh orang yang mencoba membantu tanpa pengetahuan. Dengan area yang lebih lengang, penolong utama bisa fokus membaringkan pasien, mengamankan benda di sekitar, dan memastikan posisi tubuh aman tanpa gangguan. Kerumunan yang terlalu dekat juga bisa menimbulkan risiko cedera karena dorongan yang tidak disengaja.
3. Longgarkan pakaian pasien
Pakaian yang ketat, terutama di bagian leher, bisa menghambat pernapasan saat otot menegang saat kejang. Melonggarkan kerah, dasi, kancing, atau aksesoris lain akan membantu aliran udara lebih lancar. Selain itu, pakaian yang longgar memudahkan pasien diposisikan miring setelah kejang berhenti untuk mencegah tersedak muntahan atau air liur.
4. Miringkan posisi tubuh pasien
Memiringkan tubuh pasien penting untuk mencegah cairan seperti air liur atau muntah masuk ke saluran pernapasan (aspirasi). Saat tubuh dimiringkan, cairan akan keluar dari mulut dengan bantuan gravitasi sehingga jalan napas tetap terbuka. Posisi ini juga mengurangi risiko tersedak dan membantu pasien bernapas lebih baik hingga kondisi stabil. Setelah kejang benar-benar berhenti dan pasien mulai sadar kembali, posisinya dapat dikembalikan ke posisi yang nyaman.
5. Dampingi pasien hingga bantuan medis tiba
Penderita kejang biasanya tidak sadar dan tidak mampu melindungi dirinya sendiri selama episode berlangsung. Karenanya, penting untuk tetap berada di dekat pasien sampai kejang berhenti dan bantuan medis tiba jika diperlukan. Anda harus memastikan kepala terlindungi, jalan napas tetap terbuka, dan tidak ada cedera tambahan. Setelah kejang, pasien bisa mengalami kebingungan sehingga perlu diberikan penjelasan tenang tentang apa yang terjadi. Catat detail penting seperti durasi kejang, adanya cedera, atau kejang berulang sebagai informasi untuk dokter.
Jika pasien mengalami kejang lebih dari dua kali dalam sehari atau durasinya mencapai lebih dari lima menit, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh. Anda mereservasi jadwal pemeriksaan kesehatan dengan dr. Fransiska Marshia Tarius melalui websitemaupun aplikasi MySMC yang tersedia di iOS dan Android. SMC RS Telogorejo siap memberikan bantuan medis yang Anda butuhkan!