Thumbnail
19 Agustus 2026

4 Syarat Menjalani Sunat Anak agar Efektif

Ada alasan mengapa prosedur sunat anak cukup populer, dan itu tidak hanya berkaitan dengan faktor agama maupun budaya. Justru sunat pada anak bisa membawa banyak manfaat kesehatan seperti membantu menjaga kebersihan organ intim, menurunkan risiko infeksi saluran kemih, hingga mengurangi kemungkinan terjadinya beberapa penyakit pada area genital di kemudian hari. 

Agar manfaat tersebut dapat dirasakan secara optimal, proses sunat sebaiknya dilakukan saat kondisi kesehatan anak benar-benar prima. Menurut dr. Dutha Patria Huthama, Sp.BA., FIAPS selaku Dokter Umum dari SMC RS Telogorejo, sebelum menjalani prosedur sunat, orang tua perlu memastikan bahwa anak telah memenuhi syarat kesehatan tertentu. Simak syarat lengkapnya dalam artikel berikut!

1. Anak tidak sedang demam

Salah satu syarat utama sunat anak adalah memastikan anak tidak sedang mengalami demam. Apabila suhu tubuh meningkat akibat infeksi atau penyakit tertentu, tindakan sunat sebaiknya ditunda hingga kondisi anak benar-benar pulih. Sebab, berdasarkan pemaparan dr. Dutha Patria Huthama, Sp.BA., FIAPS, kondisi tubuh yang sehat akan membantu proses tindakan berlangsung lebih aman sekaligus mempercepat pemulihan setelah sunat.

Demam merupakan tanda bahwa sistem imun sedang bekerja melawan infeksi. Jika sunat tetap dilakukan saat anak demam, risiko terjadinya infeksi pada luka sunat dapat meningkat karena daya tahan tubuh sedang fokus melawan penyakit lain. Kondisi ini juga berpotensi memperlambat proses penyembuhan.

Selain itu, demam dapat menyulitkan dokter dalam memantau kondisi anak setelah tindakan. Pasalnya, demam merupakan salah satu tanda infeksi pascasunat. Jika anak sudah mengalami demam sebelum prosedur, dokter akan lebih sulit menentukan apakah peningkatan suhu tubuh disebabkan oleh penyakit sebelumnya atau komplikasi setelah sunat.

2. Anak tidak mengalami infeksi

Selain bebas dari demam, sunat anak juga perlu dilakukan ketika anak tidak mengalami infeksi, baik infeksi yang menyerang tubuh secara umum maupun infeksi di sekitar area genital. Kondisi tubuh yang sehat memungkinkan sistem imun bekerja secara optimal sehingga proses penyembuhan luka berlangsung lebih cepat dan risiko infeksi setelah tindakan dapat diminimalkan.

Sebelum tindakan dilakukan, dokter akan memeriksa kondisi kesehatan anak secara menyeluruh. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan anak tidak mengalami infeksi aktif, seperti flu, infeksi kulit, atau peradangan di area penis. Dokter juga akan memastikan struktur penis normal serta menilai apakah terdapat gangguan pembekuan darah yang dapat meningkatkan risiko perdarahan selama tindakan.

Persiapan sebelum sunat juga berperan penting dalam mencegah infeksi. Orang tua dianjurkan menjaga kebersihan area genital anak, menyampaikan riwayat penyakit maupun alergi yang dimiliki anak, serta mengikuti seluruh anjuran dokter mengenai metode sunat yang paling sesuai dengan kondisi anak.

3. Tidak ada kelaninan pada penis anak

Sebelum memulai prosedur sunat anak, dokter akan memeriksa apakah terdapat kelainan bawaan pada penis. Pemeriksaan ini penting karena beberapa kondisi, seperti hipospadia, epispadia, chordee, buried penis, atau mikropenis, memerlukan penanganan khusus dan biasanya tidak dapat langsung disunat.

Selain bentuk penis, dokter juga akan menilai apakah anak memiliki gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia. Jika ditemukan salah satu kondisi tersebut, dokter akan menentukan penanganan yang paling sesuai agar tindakan sunat tetap aman.

4. Usia anak saat ini

Pada dasarnya tidak ada batasan usia yang benar-benar mutlak untuk melakukan sunat anak. Namun, secara medis terdapat beberapa rentang usia yang dinilai lebih ideal karena berkaitan dengan kecepatan penyembuhan, tingkat kerja sama anak, serta metode anestesi yang digunakan.

Pada usia bayi, terutama di bawah 6 bulan, proses penyembuhan umumnya berlangsung lebih cepat karena kemampuan regenerasi jaringan masih sangat baik. Sementara itu, pada usia balita, anak cenderung lebih aktif, sehingga biasanya sulit untuk tetap tenang selama tindakan berlangsung. 

Selain itu, usia sekolah, sekitar 5-12 tahun, sering dianggap sebagai waktu yang ideal untuk sunat. Pada usia ini, anak umumnya sudah dapat memahami tujuan tindakan, mampu bekerja sama dengan dokter, dan lebih siap secara mental. 

Memastikan anak memenuhi syarat kesehatan sebelum menjalani sunat anak merupakan langkah penting agar prosedur berjalan aman, efektif, dan proses pemulihannya lebih optimal. Jika masih ragu apakah anak sudah siap atau memerlukan tindakan sunat, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dr. Dutha Patria Huthama, Sp.BA., FIAPS di SMC RS Telogorejo. 

Anda dapat dengan mudah melakukan reservasi jadwal konsultasi maupun medical check-up melalui website resmi SMC RS Telogorejo atau aplikasi MySMC App yang tersedia di iOS dan Android untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan anak.