logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Bone Degenerative Disease

    Bone Degenerative Disease

    dr. Andreas Vincent Handoyo, Sp.OT., M.Kes
    Dokter Spesialis Bedah Orthopedi SMC RS Telogorejo

    Bone degenerative disease adalah suatu proses kerusakan atau penuaan pada tulang yang dapat diakibatkan oleh berbagai penyakit. Kondisi ini lebih dikenal dengan istilah Osteoporosis, merupakan penyakit yang sangat sering terjadi, ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikro- arsitektur jaringan tulang yang berakibat menurunnya kekuatan tulang dan meningkatnya kerapuhan tulang, sehingga tulang mudah patah. Menurut WHO (World Health Organization), penyakit osteoporosis ditegakkan melalui pemeriksaan BMD (Bone Mineral Density) tulang belakang bawah atau panggul dengan nilai ≤ 2.5 SD.

    WHO mencatat lebih dari 75 juta orang di Eropa, Amerika, danJepang menderita osteoporosis. Kondisi tersebut di Eropa dan Amerika mengakibatkan 2,3 juta kasus patah tulang per tahun. Sedangkan di Cina tercatat sebesar 7% dari jumlah populasi. Di Indonesia menurut Puslitbang Gizi Depkes RI pada tahun 2005 prevalensi osteoporosis di Indonesia sebesar 10,3%.

    Berdasarkan penyebabnya, Osteoporosis dibedakan menjadi dua : osteoporosis primer yang merupakan suatu proses alamiah tanpa ada suatu penyakit, dan osteoporosis sekunder yang disebabkan oleh berbagai kondisi klinis atau penyakit. Beberapa faktor risiko terjadinya osteoporosis meliputi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti : usia (lansia), jenis kelamin (wanita), genetik, perubahan hormonal (menopause, tiroid), ras (kulit putih) dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti : imobilitas jangka panjang, postur tubuh kurus, konsumsi alkohol, kopi, rokok, soda, asupan gizi rendah, jarang terkena sinar matahari, kurang aktivitas fisik, dan penggunaan obat tertentu jangka panjang.

    ilustrasi kelainan tulangIlustrasi kelainan tulang belakang pada osteoporosis

    Hal yang ditakutkan pada penderita osteoporosis adalah terjadinya patah tulang atau fraktur pada satu atau lebih bagian tubuh tanpa adanya benturan yang berarti. Tulang belakang bawah, panggul atau bonggol sendi panggul, dan pergelangan tangan merupakan bagian tubuh yang sering mengalami patah akibat keropos. Beberapa kasus patah tulang dapat memberikan masalah serius untuk fungsi anggota gerak dan seringkali memerlukan tindakan operasi untuk memperbaiki fungsi. Patah pada tulang belakang akibat keropos lebih lanjut dapat menyebabkan deformitas, penurunan mobilitas, penurunan selera makan, depresi, kecemasan, penurunan kepercayaan diri, dan penurunan kapasitas paru. Patah pada panggul sering menyebabkan kecacatan dan memerlukan tindakan operasi untuk mengurangi kecacatan dan mengembalikan fungsi sendi panggul mendekati semula. Patah pada pergelangan tangan dapat memberikan deformitas yang menyebabkan berkurangnya kekuatan genggam dan koordinasi motorik gerakan tangan.

    Terjadinya osteoporosis dapat mulai dicegah sejak masa pembentukan tulang seseorang dalam kandungan dan saat tumbuh terutama usia 8–16 tahun. Makin baik pertambahan kepadatan tulang pada usia tersebut dapat menjadi investasi atau tabungan kepadatan tulang masa depan. Pada usia 20–30 tahun, seseorang memiliki kepadatan puncak tulang yang kemudian akan menurun seiring bertambahnya usia. Faktor penting untuk pencegahan meliputi status hormonal, asupan kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik dan genetik. Status hormonal yang dapat member pengaruh antara lain : gangguan tiroid dan paratiroid, problem hepar dan ginjal.

    Beberapa sumber asupan kalsium antara lain : susu, keju, yoghurt, ikan, bayam, daun pepaya, sawi, kacang panjang, tahu, tempe, dan sereal. Aktivitas fisik yang dianjurkan antara lain : senam osteoporosis, jalan kaki, latihan beban ringan, latihan keseimbangan, berjemur dan senam otot punggung. Pencegahan jatuh melalui pengobatan penyakit lain dan modifikasi lingkungan sekitar pada usia lanjut juga memegang peranan penting, diantaranya penanganan penyakit mata seperti katarak, hindari penggunaan obat tidur, penggunaan crane atau walker, hindari alas kaki licin dan sepatu hak tinggi, penggunaan karpet bila lantai licin, instalasi pegangan di kamar mandi, dan pastikan cukup cahaya di ruangan.

    Pengobatan osteoporosis dapat menggunakan beberapa macam obat, antara lain kalsium, obat golongan biphosphonate, raloxifene, calcitonin, teriparatide dan terapi hormon (estrogen). Bila terjadi patah tulang ringan dapat dilakukan tindakan gips, dan bila patah tulang berat sering memerlukan tindakan operasi pemasangan pen maupun protesa atau penggantian bonggol sendi.

     

    Penggantian bonggol sendi pada patah bonggol sendi panggul

    DAFTAR PUSTAKA
    1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengendalian Osteoporosis. Kepmenkes RI No 1142/ Menkes/SK/XII/2008.
    2. National Osteoporosis Foundation (NOF). Clinician’s Guide to Prevention and Treatment of Osteoporosis. Bone Source, 2014.
    3. Sweet MG, Sweet JM, Jeremiah MP, Galazka SS. Diagnosis and Treatment of Osteoporosis. J American Family Physician 2009vol 79, 3.
    4. Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER). Osteoporosis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968?p=1
    5. National Institutes of Health Osteoporosis and Related Bone Diseases National Resource Center (NIH). What is Osteoporosis?. www.bones.nih.gov
    6. Jacques P. Brown, Robert G. Josse and The Scientific Advisory Council of the Osteoporosis Society of Canada. 2002 Clinical Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Osteoporosis in Canada. CMAJ November 12, 2002 167 (10 suppl) S1-S34.
    7. Prentice A. Diet, Nutrition and the Prevention of Osteoporosis. J Public Health Nutrition 2004: 7(1A), 227-243.

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream