logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Epidemiologi dan Deteksi Ca Mamma Berdasarkan Evidence Based

    Epidemiologi dan Deteksi Ca Mamma Berdasarkan Evidence Based

    dr. Yan Wisnu, Sp.B. Onk

    Epidemiologi

    Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, KPD menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%. (Data Kanker di Indonesia Tahun 2010, menurut data Histopatologik ; Badan Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI)). Diperkirakan angka kejadiannya di Indonesia adalah 12/100.000 wanita, sedangkan di Amerika adalah sekitar 92/100.000 wanita dengan mortalitas yang cukup tinggi yaitu 27/100.000 atau 18 % dari kematian yang dijumpai pada wanita. Penyakit ini juga dapat diderita pada laki – laki dengan frekuensi sekitar 1 %.

    Menurut data GLOBOCAN (IARC)2 tahun 2012 diketahui bahwa kanker payudara merupakan penyakit kanker dengan persentase kasus baru (setelah dikontrol oleh umur) tertinggi, yaitu sebesar 43,3%, dan persentase kematian (setelah dikontrol oleh umur) akibat kanker payudara sebesar 12,9%.

    Di Indonesia, lebih dari 80% kasus ditemukan berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya pengobatan sulit dilakukan. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang baik, agar pelayanan pada penderita dapat dilakukan secara optimal.

    Pendahuluan

    Apa itu kanker payudara ?
    Kanker payudara (KPD) merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya.

    Apa gejala kanker payudara ?
    Setiap perempuan perlu curiga bila didapatkan beberapa tanda sebagai berikut : benjolan di payudara dengan atau tanpa disertai nyeri, pembengkakan, penebalan, atau kemerahan pada kulit payudara; dan kelainan puting seperti discharge spontan (terutama jika berdarah), erosi, atau retraksi.

    Bagaimana mendiagnosis kanker payudara ?
    Adanya banjolan di jaringan payudara setelah dikonfirmasi oleh pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti usg payudara atau mammografi, dan pengambilan sampel jaringan histopatologi.1

    Siapa yang terkena kanker payudara ?

    Usia
    Insiden kanker payudara dan angka kematian akibat kanker payudara meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Usia rata2 seseorang terdiagnosis kanker payudara ialah 62 tahun.321

    Ras/Etnis
    Data dari American Cancer Society pada tahun 2017 – 2018, ras kulit putih non hispanik dan ras kulit hitam merupan kelompok ras dengan insiden kanker payudara paling tinggi dibanding kelompok ras lainya. Ras asia merupakan kelompok ras dengan insiden kanker payudara paling rendah.

    3

    4

    Data diatas memberitahukan bila angka kejadian kanker, terutama kanker payudara dari tahun ke tahun semakin meningkat. Gaya hidup yang semakin modern dan tidak sehat serta kurangnya kesadaran wanita untuk memeriksakan payudara membuat angka kejadian kanker payudara cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

    Rata – rata angka ketahanan hidup pernderita kanker payudara bervariasi dari masing – masing negara. 80% atau lebih pada Amerika Utara dan Swedia dan Jepang. 60% pada negara dengan penduduk dengan pendapatan menengah, dan dibawah 40% pada negara dengan pendapatan penduduk yang rendah. Menurut data Surveillance Epidemiology and End Results (SEER) di Aamerika Serikat, angka ketahanan hidup 5 tahun kanker payudara stadium 0 dan 1 bisa mencapai 100%, sedangkan stadium II, III, dan IV adalah 86%, 57%, dan 20%.1

    Rendahnya kesadaran penderita kanker payudara untuk melakukan skrining sangat berperan dalam meningkatkan angka kejadian dan kematian kanker payudara. Data dari RS Dharmais melaporkan penderita kanker payudara stadium I 6%, stadium II 18%, stadium III 44%, dan stadium IV 32%

    Pencegahan

    Pencegahan primer ialah melakukan pencegahan pada faktor – faktor risiko yang dapat diubah seperti melakukan diet sehat, melakukan olahraga secara teratur, tidak mengkonsumsi alkohol, mengontrol berat badan. Dengan melakukan pencegahan primer akan dapat menurunkan angka kejadian kanker payudara dalam jangka lama.4

    Pencegahan sekunder ialah melakukan skrining payudara. Rekomendasi American Cancer Society sebagai berikut :

    1.SADARI dapat dilakukan setiap bulan dimulai pada usia 20 tahun1

    5

    2. Usia 20-30 tahun melakukan pemeriksaan klinis payudara ke dokter setiap 3 tahun dan mulai 40 tahun peeriksaan klinis setiap 1 tahun

    3. Wanita dengan usia lebih dari 40 tahun melakukan periksaan awal mammografi dan atau usg 1 kali dan selanjutnya tiap tahun

    4. Pada Wanita berusia <40 tahun denagn riwayat keluarga kanker payudara dan faktor risiko tinggi, skrining dapat dimulai lebih awal. Untuk yang risiko tinggi melakukan mammografi dan MRI setiap tahun.

    Pencegahan tertier adalah melakukan pengobatan yang tepat sehingga mencegah komplikasi penyakit.

    Faktor Risiko dan Pencegahan

    Faktor Risiko
    Ada beberapa faktor risiko kanker payudara yang telah diketahui,  para ahli mengelompokkan menjadi dua, yaitu faktor risiko yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah. Beberapa faktor risiko yang tidak dapat diubah yatu usia, riwayat keluarga, menstruasi di usia dini, dan menopause yang terlambat. Sedangkan obesitas pasca menopause, penggunaan terapi sulih hormon, konsumsi alkohol, dan aktivitas fisik yang rendah adalah contoh faktor risiko yang dapat diubah.1

    Riwayat keluarga yang mengidap kanker payudara berhubungan dengan mutasi dari gen BRCA1, BRCA2, dan p53. Adanya mutasi pada beberapa gen tersebut meningkatkan prevalensi untuk terjadi kanker payudara sebesar 5-10%. Tetapi angka kejadian mutasi gen tersebut sangan kecil dan jarang. Selain mutasi gen, kanker ovarium dalam keluarga juga merupakan faktor risiko kanker payudara yang harus dipertimbangkan.1,4

    Faktor hormon mempunyai efek terhadap terjadinya kanker payudara. Pada wanita yang terpapar hormon estrogen lebih lama akan menyebabkan proliferasi sel epitel payudara dan merupakan rangsangan karsinogenik.  Oleh sebab itu pada wanita yang tidak mempunyai anak, tidak laktasi dan menggunakan kontrasepsi oral dan terapi sulih hormon mempunyai risiko lebih tinggi untuk terjadinya kanker payudara.

    Faktor lainnya yang juga berperan ialah densitas payudara yang lebih tinggi,  obesitas di usia menopause, mendapat radiasi pada dinding dada pada usia 10-30 tahun dan konsumsi alkohol.

    Daftar Pustaka

    1. Purwanto H, Handojo D, Haryono SJ, Harahap WA. Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara. Peraboi. 2015
    2. IARC 2012. Cited at http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-kanker.pdf
    3. Breast Cancer Fact and Figures 2017-2018. Cited at https://www.cancer.org/content/dam/cancer-org/research/cancer-facts-and-statistics/breast-cancer-facts-and-figures/breast-cancer-facts-and-figures-2017-2018.pdf
    4. Breast Cancer and Prevention. Cited at http://www.who.int/cancer/detection/breastcancer/en/
    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream