KOTAWARINGIN BARAT, News – Bagi seorang pasien stroke yang kehilangan kemampuan melangkah, atau orang tua yang cemas melihat buah hatinya berjuang melawan kejang epilepsi, jarak seringkali menjadi mush yang menakutkan.
Menyadari kecemasan itu, SMC RS Telogorejo Semarang hadir memangkas jarak tersebut dengan
mengadakan seminar di Pangkalan Bun.
Setelah tiga tahun menahan rindu akibat batasan pandemi dan dinamika pasca-pandemi, rumah sakit di Semarang yang telah berusia 100 tahun ini kembali menginjakkan kaki di Bumi Marunting Batu Aji, lewat perhelatan “One Stage, Triple Impact” di Hotel Mercure Pangkalan Bun, Sabtu 7 Febuari 2026.
SMC RS Telogorejo membawa pesan kuat: Teknologi kesehatan tercanggih kini hanya sejauh 55 menit dari rumah Anda. Membangun “Jembatan Kehidupan” di Langit Borneo Mengapa Pangkalan Bun? Pertanyaan ini dijawab lugas dengan fakta geografis yang sering terabaikan.
“Kami melihat Pangkalan Bun bukan sekadar area cakupan, tapi tetangga terdekat. Dengan penerbangan ‘one flight’ yang hanya memakan waktu 55 menit, akses ke Semarang jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan darat antar-kota di Kalimantan. Dalam kasus medis darurat seperti serangan stroke atau trauma saraf, kecepatan akses ini adalah ‘nyawa’. Kami hadir untuk memastikan warga Pangkalan Bun tahu, bahwa bantuan medis level lanjut itu sangat dekat,” ujar Pimpinan Corporate Business Marketing Communication Yayasan Kesehatan Telogorejo, Adhitia Budi kepada insan pers.
Dalam kunjungan “jemput bola” ini, SMC RS Telogorejo memperkenalkan wajah barunya yang telah bertransformasi total dalam dua tahun terakhir.
Salah satunya adalah ROMEO (Robotic Rehab Medik Telogorejo). Bukan sekadar alat canggih, ROMEO adalah harapan bai pasien pasca-stroke, cedera tulang belakang, atau gangguan saraf.
Alat rehabilitasi robotik ini membantu pasien melatih kembali otak dan otot kaki juga tangan mereka untuk berjalan dengan presisi yang mustahil dilakukan oleh terapi manual biasa. Ini adalah tentang mengembalikan martabat dan kemandirian pasien untuk kembali berdiri tegak. Kesehatan adalah hak yang tidak boleh terhalang oleh lautan.
Tim SMC RS Telogorejo datang kembali ke Pangkalan Bun dengan satu keyakinan bahwa jarak fisik boleh terpisah pulau, tapi akses terhadap keselamatan nyawa harus tapa jeda. Kami mendengar banyak cerita perjuangan pasien dari Kalimantan yang mencari kesembuhan.
“Melalui acara ini, kami ingin menggenggam tangan bapak dan ibu sekalian, meyakinkan bahwa SMC RS Telogorejo siap menjadi ‘rumah kedua’ yang aman. Kami tidak hanya menawarkan alat canggih, tapi kami menawarkan ketenangan pikiran, bahwa pertolongan terbaik itu ada di dekat Anda,” ujar Humas SMC RS Telogorejo, Berliana Bunga.
Memboyong masa depan kesehatan untuk “membayar” kerinduan selama tiga tahun, SMC RS Telogorejo membawa serta inovasi terbaiknya, ROMEO. Teknologi rehabilitasi robotik ini diperkenalkan sebagai solusi revolusioner bai pasien pasca-stroke sebuah teknologi yang jarang ditemui namun kini bisa diakses mudah oleh warga Pangkalan Bun.
Tiga Pakar, Satu Misi Kemanusiaan.
Kunjungan ini juga menjadi ajang transfer ilmu yang mendalam. Tiga pilar medis SMC RS Telogorejo hadir berbagi solusi, di antaranya:
Prof. dr. Muhamad Thohar Arifin, Ph.D., PA., Sp.BS-VA (Dokter Spesialis Bedah Saraf Subspesialis Neurovaskular): Membuka mata para sejawat dan masyarakat bahwa operasi otak kini tak lagi sengeri bayangan masa lalu risiko diminimalisir demi keselamatan pasien.
dr. Tun Paksi Sareharto, M.Si.Med., Sp.A(K), Subsp.Neuro (Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neurologi Anak): Membawa misi menyelamatkan masa depan anak-anak dengan epilepsi. la menekankan bahwa dengan deteksi dini dan pengobatan tepat, stigma bisa dihapus dan anak tetap bisa meraih cita-citanya.
dr. Andreas Vincent Handoyo, Sp.OT (Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi): Memberikan solusi mobilitas bebas nyeri bagi mereka yang mengalami masalah tulang dan sendi.
Kerjasama dengan IDI Kobar:
Kehangatan acara ini tak lepas dari peran Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kotawaringin Barat. Dukungan penuh dari para pimpinan dan sejawat IDI setempat menjadi bukti bahwa dalam dunia kesehatan, tidak ada kompetisi, yang ada hanyalah kolaborasi demi keselamatan pasien.
Ratusan peserta, baik dokter maupun masyarakat awam, larut dalam diskusi interaktif, menikmati hidangan makan sing, serta membawa pulang goodie bag dan doorprize sebagai tali asih.
Namun, oleh-oleh terbesar dari pertemuan ini adalah kepastian. Kepastian bahwa jika sakit itu datang, warga Pangkalan Bun tidak perlu bingung. Ada tangan-tangan ahli dan teknologi robotik seberang pulau, di Kota Semarang Jawa Tengah yang siap menyambut dan menolong mereka secara cepat dan tepat.
Sementara itu, Manager Humas dan Digital Marketing MC RS Telogorejo Andreas Yunian menyampaikan, dengan kunjungan ke masyarakat, para dokter, dan relasi perusahaan di Pangkalan Bun, SMC RS Telogorejo dapat terus membantu memfasilitasi kebutuhan kesehatan yang prima.
“Jarak dan waktu tidak lagi menjadi sebuah ‘gap’, komunikasi kami yang tidak pernah terputus dan kesiapan kami menerima kedatangan pasien bahkan sejak menit pertama turn dari pesawat hingga kepulangannya, adalah wujud komitmen service excellent SMC RS Telogorejo.” ujarnya.