logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Kemajuan Terkini Pengobatan Epilepsi

    Kemajuan Terkini Pengobatan Epilepsi

    Epilepsi merupakan penyakit yang diderita pasien dalam kurun waktu lama. Pada umumnya serangan atau bangkitan epilepsi ditandai dengan pingsan dan/ atau kejang secara berulang kali. Bangkitan lain seperti tiba-tiba bengong atau hilang kesadaran sesaat, mulut yang bergumam atau komat-kamit, hingga berteriak sendiri. ODE (Orang Dengan Epilepsi) dengan bangkitan berteriak sering dianggap menderita gangguan jiwa. Pada sebagian besar ODE, serangan epilepsi ini bisa dicegah atau dikendalikan dengan satu atau dua macam obat anti epilepsi (OAE) yang diminum teratur.

    Pengobatan Epilepsi :

    Setiap kali merasa kejang, apalagi bila berlangsung sampai beberapa menit, akan menimbulkan kerusakan sampai kematian sejumlah sel-sel otak. Apabila terus berulang maka banyak sel-sel otak kita yang menjadi lemah bahkan mengalami kematian, ini akan mengakibatkan menurunnya daya pikir sampai kemunduran mental/ intelektual yang berat. Tujuan pengobatan pada ODE adalah bebas serangan kejang, atau masih ada serangan tetapi dalam bentuk yang ringan sekali, misalnya terbangun sesaat di waktu malam, atau bentuk-bentuk serangan ringan yang tidak mengganggu kesadaran pasien (non disabling seizures)

    Seberapa sering serangan epilepsi ini dianggap “bisa diterima” dan tidak mengganggu, juga tergantung pada “siapa” ODE tersebut. Bagi ODE yang hanya tamat sekolah dasar dan tinggal di rumah , satu kali serangan dalam sebulan mungkin tidak mengganggu, tapi bagi ODE yang masih sekolah dan berharap mengejar karir masa depan, serangan sekali dalam setahun bisa jadi masalah bagi pendidikan atau karirnya.

    Berbeda dengan orang dewasa yang pertumbuhan otaknya sudah selesai, pengaruh kejang pada otak bayi dan anak-anak akan lebih merusak karena otak yang sedang tumbuh dan berkembang lebih rentan terhadap hipoksia atau kekurangan pasokan zat asam. Bayi dan anak-anak dengan kejang yang terus berulang dan sulit diatasi dengan OAE bisa dipastikan akan mengalami gangguan perkembangan mental atau Disabilitas Mental. Oleh karena itu upaya untuk mengatasi kejang yang terus terjadi ini harus dilakukan secara agresif dan tidak bisa menunggu sampai munculnya kerusakan otal yang tidak bisa dipulihkan itu.

    Kapan Operasi menjadi pilihan ?

    Penelitian di pelbagai Negara membuktikan bahwa 60-80% epilepsi dapat diatasi dengan pemberian OAE. Sehingga ada sekitar 20-40% ODE yang dapta disebut sebagai refrakter/bandel/kebal terhadap OAE. Pemakaian OAE baru yang lebih baik dan lebih mahal ternyata hanya dapat mengatasi sebagian kecil (6-8%) ODE refrakter ini, sedangkan tindakan Bedah Epilepsi terbukti memberi manfaat berupa bebas kejang pada 70% ODE refrakter, dan hanya 20% lainnya mengalami perbaikan dan berubahnya bentuk serangan menjadi lebih ringan. Atas dasar inilah operasi epilepsi layak untuk dikembangkan dan menjadi pilihan bagi sebagian penderita epilepsi, khususnya bagi ODE yang penyakitnya dinyatakan refrakter.

    “Untuk sampai pada tindakan Bedah Epilepsi, diperlukan bermacam-macam pemeriksaan pra-bedah seperti perekaman listrik otak atau EEG dan MRI otak yang baik. Informasi yang terpenting dan sering tidak diperhatikan adalah urutan gerakan tubuh pasien saat kambuh kejangnya, seperti arah lirikan mata, tarikan pada sudut mulu, dan sisi lengan yang terangkat atau kaku lebih dulu sebelum seluruh tubuh mengalami kelojotan”, ungkap Prof. Dr. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D., Sp.BS. selaku dokter spesialis bedah epilepsi SMC RS Telogorejo. Untuk menghindari informasi yang salah, lanjutnya, kami mengharapkan keluarga untuk dapat membuat video rekaman kejadian kambuh itu dengan ponsel atau alat rekam lain secara berulang-ulang, agar informasi dapat saling melengkapi. Pihak keluarga adalah yang paling mungkin menyaksikan bangkitan kejang itu, karena tidak dapat diduga kapan munculnya. “Sebelum pembedahan, kami melibatkan tim yang terdiri dari dokter saraf, dokter saraf anak, psikolog, dokter ahli radiologi, perawat, dan tentunya dokter ahli bedah saraf dalam berbagai pemeriksaan pra-bedah tersebut di atas dan dengan menganalisa rekaman video kejang pasien, untuk dapat memastikan letak sumber kejang (fokus epilepsi) di otak.” Jelasnya. Kemajuan bedah epilepsi telah memungkinkan tindakan diagnostic (monitoring) untuk kasus epilepsi yang sulit ditentukan letak fokus epilepsinya di otak dengan pemasangan elektroda intrakranial (di permukaan otak), dan tindakan bedah epilepsi dengan irisan kecil (mini kraniotomi).

    Hingga akhir Desember 2017, baru sekitar 650 orang ODE yang telah ditangani dengan pembedahan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan terbanyak dari Jawa Tengah sekitar 200 orang, lalu dari Jakarta dan sekitarnya 100 orang, dari Jawa Timur 80 orang dan sisanya dari luar Pulau Jawa. “Kami harap peran dari semua pihak terkait untuk meningkatkan kemampuan SDM dan fasilitas rumah sakit, terutama rumah sakit pendidikan yang telah memiliki fasilitas dan SDM untuk pelayanan Bedah Saraf, agar dapat mengembangkan pelayanan bedah epilepsi.” Pungkas Prof. Zainal.

    Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Call Center 24 jam SMC RS Telogorejo di nomor telepon (024) 8646 6000, (024) 8452912, Ph. 08112791949 (Dinda)

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream