logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Masalah Kesehatan pada Lansia

    Masalah Kesehatan pada Lansia

    dr. H. Hadi Martono W.S., Sp.PD-KGER, FINASIM
    Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Geriatri

    Jumlah penduduk lansia (≥ 60 tahun) bertambah setiap tahunnya di Indonesia. Pada Tahun 2015, penduduk lansia mencapai 8,1% dari total seluruh penduduk. Diperkirakan pada tahun 2025 dan 2030, berturut-turut akan meningkat menjadi 11,3% dan 12,9%. Dengan berlakunya SNARS 2018, maka semua tempat pelayanan kesehatan diwajibkan menyediakan pelayanan khusus bagi penderita usia lanjut atau pelayanan Geriatri.

    Usia lanjut bukanlah orang dewasa yang ditambah umurnya, akan tetapi sering diberi batasan sebagai: “suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita sedemikian sehingga tidak dapat mengatasi (”coping”) beban tambahan stress (fisik,psikologik maupun sosio-ekonomik-kultural)” (Constantinides 1994, dikutip Boedhi Darmoyo,1995). Hal ini menyebabkan berbagai pelayanan kesehatan pada usia lanjut berbeda dengan pelayanan dari populasi usia lain. Pada dasarnya perbedaan pelayanan kesehatan ini diakibatkan oleh berbedanya aspek fisiologis dari penderita usia lanjut dengan penderita populasi lain. Pada golongan usia lanjut dikenal konsep BIO-PSIKO-SOSIAL yang menunjukkan bahwa pada usia lanjut terdapat hubungan yang erat antara aspek biologik atau fisik, psikologik dan sosioekonomik kultural, sehingga adanya gangguan dari salah satu komponen tersebut akan menyebabkan gangguan kesehatan yang tidak harus dalam bentuk penyakit tetapi bisa dalam bentuk yang disebut sebagai gangguan status fungsional dan sindroma geriatrik. Pembahasan berikut akan menjelaskan bagaimana tatalaksana mulai diagnosis berbagai masalah kesehatan yang terjadi pada lansia dalam bentuk gangguan status fungsional, penyakit dan sindroma geriatri tersebut.

     elder 2

    Konsep Gangguan Kesehatan pada Usia Lanjut Gangguan kesehatan pada usia lanjut atau geriatri dapat berbentuk :

    • Gangguan Status Fungsional
    Adalah gangguan yang menyebabkan seorang usia lanjut tidak dapat berfungsi sebagai manusia seutuhnya. Dalam konteks kesehatan hal ini disebut sebagai ketidakmampuan melakukan
    aktivitas hidup atau kehidupan sehari-hari (AHS atau AKS). AHS atau AKS ini dibagi menjadi dua yaitu AHS DASAR (Basic ADL) yaitu kemampuan dasar yang terutama hanya bersifat motorik, dan AHS Instrumental yang selain kemampuan motorik juga diperlukan berbagai kemampuan kognitif. AHS DASAR ini biasanya diperiksa dengan melihat kemampuan untuk :
    – Mandi
    – Makan
    – Berpakaian dan berdandan (grooming)
    – Berpindah tempat (contoh : dari tempat tidur ke tempat lain)
    – Berkemih atau buang air besar mandiri

    Kemampuan untuk melakukan AKS/AHS tersebut dinilai dengan indeks KATZ/BARTHEL yang sederhana. Apakah masing-masing atau semua kemampuan tersebut dapat dilakukan sendiri atau harus dengan bantuan orang lain. Kalau semua itu dilakukan sendiri maka disebut AHS/AKS A. Ketidakmampuan melakukan satu hal disebut sebagai AHS/AKS B, tidak bisa 2 hal disebut sebagai C dan seterusnya. Sebetulnya harus pula dinilai kemampuan untuk melaksanakan AHS/AKS instrumental, yaitu misalnya menulis atau membaca, mencuci pakaian (laundry), berbelanja, penatalaksanaan keuangan (managing money), bepergian dengan kendaraan umum, bertelepon, dll. Tetapi kemampuan AHS dasar saat ini dianggap cukup menggambarkan fungsi motorik, sedangkan fungsi kognitif diperiksa dengan menggunakan perangkat lain.

    • Penyakit
    Pada dasarnya penyakit pada usia lanjut jenisnya sama dengan yang terjadi pada usia lain, tetapi terdapat perbedaan dalam karakteristik dan penampilannya. Pada usia lanjut, penyakit biasanya bersifat multipatologik, degenerative, kronis, berjalan progresif dengan gejala dan tanda yang menyelinap, menyebabkan kecacatan lama sebelum akhirnya terjadi kematian (Stieglitz,1954). Aspek multipatologik atau banyak penyakit pada satu penderita dibuktikan pada penelitian yang dinyatakan di RSDK (1994), pada satu penderita lansia mengalami 7,2 penyakit atau gangguan kesehatan (Hadi-Martono, 1994). Perbedaan penampilan antara lain dalam hal awitan yang tidak jelas dan gejala yang menyelinap atau tidak khas. Seorang yang menderita bronkopneumonia sering tidak menunjukkan gejala febris, peninggian lekosit, batuk minimal, tetapi justru sering datang dengan gejala konfusio atau bingung, meracau, lemah badan atau jatuh. Demikian pula penderita serangan jantung koroner hanya sekitar 40% yang menunjukkan gejala klasik.
    tabel geriarti 1Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa penderita usia lanjut lebih banyak menderita penyakit degeneratif dan auto-imun yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Gejala yang ditimbulkannya tidak spesifik dan tersembunyi. Penyakitnya multipel, kronis, menimbulkan cacat lama sebelum terjadinya kematian (Stieglietz,1954). Usia lanjut yang menunjukkan gejala ini adalah usia lanjut secara biologik, bukan usia lanjut kronologis. Jadi usia lanjut biologik dapat dilihat jika menderita lebih dari dua penyakit yang terutama bersifat penyakit degeneratif. Dalam hal penyakit juga perlu dimasukkan selain penyakit fisik, juga perlu diperiksa penyakit psikokognitif dan kalau ada harus di tatalaksana sebaik mungkin. Penyakit atau gangguan seperti depresi, cemas, duka cita dalam, dementia perlu didiagnosis dan dilakukan penatalaksanaan yang tepat. Begitu pula gangguan status nutrisi atau gizi merupakan keadaan patologis yang perlu mendapat perhatian, karena penderita usia lanjut seringkali mempunyai keterbatasan dalam makanan, baik akibat ekonomi, (kebanyakan lansia sudah dalam status pensiun atau keterbatasan keuangan), juga faktor keterbatasan fisik atau psikis sehingga kesulitan dalam penyediaan makanan. Penurunan fisiologik pada organ atau sistem, misalnya penurunan fungsi ginjal, hati, endokrin metabolik dan lain-lain perlu dicantumkan, mengingat hal ini sangat mempengaruhi tampilan berbagai organ dan sistem pada tubuh seorang usia lanjut dan sangat berhubungan dengan penatalaksanaan berbagai kelainan lain, misalnya cara pemberian nutrisi atau pemberian berbagai obat. Penurunan fungsi ginjal misalnya apabila sudah melewati batas tertentu (biasanya GFR ≤ 50%) maka nutrisi tidak boleh mengandung protein ≥ 0,6 gr/kg BB/hari).

    • Sindroma Geriatrik
    Kumpulan gejala atau tanda yang dikeluhkan oleh penderita atau perumat sebagai hal yang sangat mengganggu kesehatan penderita.

    CAPE, et al : The “O” Complex
    – Fall
    – Confusion
    – Incontinence
    – Iatrogenic Disorders
    – Impaired Homeostasis

    CONI, DAVIDSON & WEBER : “The Big Three”
    – Intelectual Failure
    – Instability/immobility
    – Incontinence

    SOLOMON et al : the 14 I
    – Imobility
    – Instability
    – Intelectual Impairment
    – Incontinence
    – Inanition
    – Isolation
    – Impotence
    – Imuno-deficiency
    – Infection
    – Impecunity
    – Impaction
    – Iatrogenic
    – Insomnia
    – Impairment of vision
    hearing, smell, etc

    GERIATRIC GIANTS
    – Confusion, dementia
    – Bone Disease and Fracture
    – Cerebral syndromes
    – Autonomic nervous system disorder
    – Falls
    – Decubitus/Pressure Sore
    – Inkontinentia (urine et alvie)

    Berbeda peneliti dan tempat penelitian menghasilkan jenis temuan sindroma geriatrik yang berbeda. Dari banyaknya sindroma geriatrik oleh berbagai peneliti tersebut, biasanya yang tersering digunakan adalah Geriatric Giants dari Brocklehurt dan “14 I” dari Solomon dkk dari Universitas California. Karena kedua sindroma tersebut tampaknya sudah mencakup berbagai dapatan yang dikemukakan oleh peneliti lain. Walaupun saat ini terdapat berbagai tambahan dari pendapat berbagai ahli tentang sindroma geriatrik ini misalnya : frail atau Rapuh dan sinkope. Sebagaimana dengan masalah kesehatan I dan ke-II maka sindroma geriatri ini juga memerlukan diagnosis dari penyakit penyebabnya, sehingga dapat diberikan penatalaksanaan yang tepat. Bingung dan jatuh, dapat disebabkan oleh banyak sekali penyakit sehingga diperlukan tatacara diagnosis khusus agar dapat diberikan terapi dan penatalaksanaan yang tepat.

    Penatalaksanaan Selanjutnya

    • Asesmen Geriatri
    Dengan tatacara diagnosis penderita geriatri yang disebut sebagai asesmen komprehensif geriatri (comprehensive geriatric assessment) ketiga komponen gangguan kesehatan pada usia lanjut akan dapat didiagnosis, walaupun gejala yang timbul tidak spesifik. Asesmen atau pengkajian komprehensif geriatrik sendiri memang berbeda dengan tatacara diagnosis pada kelompok usia lain. Secara definisi, asesmen geriatri adalah analisis multi-disiplin yang dilakukan oleh seorang geriatris dan/atau suatu tim interdisipliner geriatri untuk mengungkap kapabilitas medis, fungsional dan sosio-ekonomik-kultural penderita sehingga penatalaksanaan pada seorang penderita dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Pada dasarnya asesmen geriatri ini berbeda dengan tatacara diagnostik pada populasi usia lain, karena pada penderita seringkali gejala dan tanda yang dikeluarkan oleh penderita sering tidak jelas hubungannya dengan penyakit penyebab. Oleh karena itulah anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pendukung pada penderita tidak dapat diarahkan pada satu organ atau sistem tertentu yang diduga sebagai penyebab dari gejala dan tanda yang didapat, akan tetapi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pendukung harus memeriksa seluruh organ dan sistem (sering dikatakan mulai dari ujung kaki sampai dengan ujung rambut) dengan tidak melihat ada atau tidaknya gejala dan tanda penyakit berasal dari mana.

    • Dokter atau Geriatrist
    Untuk mengungkap dan menangani masalah yang sedemikian banyak seperti disebutkan di atas, maka selain tatacara diagnosis khusus, dan tim khusus, harus ada seorang yang bertugas sebagai “leader” sekaligus koordinator dalam tim geriatri tersebut. Oleh karena sebagian besar penyakit non bedah yang diderita penderita adalah terutama penyakit dalam, maka dokter tersebut harus mempunyai dasar pengetahuan ilmu penyakit dalam, yang cukup banyak dan masih perlu ditambah dengan berbagai pengetahuan lain, misalnya nutrisi, rehabilitasi medik, neurologi, psikiatri atau psikologi dan berbagai ilmu sosial. Oleh karena itulah dalam pendidikannya seorang geriatris harus diperdalam ilmu penyakit dalam umumnya dan ditambah dengan kebutuhan ilmu dibidang lainnya, sehingga kalau diperbandingkan, antara seorang internis umum, internis subspesialis non geriatrik dan seorang internis geriatris adalah sebagai dapat dilihat dalam ilustrasi sebagai berikut :
    geriatri 2
    Dengan pendalaman ilmu penyakit dalam dan penambahan ilmu disiplin lain tersebut, seorang geriatris dapat menjadi pemimpin dan koordinator dalam tim geriatri yang juga mempunyai bentuk dan tatakerja khusus.

    • Tim Geriatri
    Tim geriatri adalah suatu tim multi disipliner yang bekerja secara interdisipliner untuk bersama-sama menangani masalah kesehatan pada penderita geriatri. Dengan multi disiplin jelas diartikan bahwa anggota tim terdiri dari berbagai disiplin ilmu kesehatan atau kedokteran yang berbeda-beda, akan tetapi bedanya dengan tim multi disiplin lain adalah bahwa tim geriatri bekerja secara inter-disipliner, artinya ialah bahwa anggota dari berbagai disiplin tersebut tergantung satu sama lain (inter-dependent), sehingga kerjasamanya sangat erat, dan salah satu anggota dapat memberi saran atau pendapat kepada anggota tim yang lain (dalam skema terlihat sebagai garis titik-titik). Derajat kependidikan dari anggota tim juga tidak harus setingkat, akan tetapi penting bahwa tiap anggota mampu dan mengerti tugasnya masing masing, dan yang terutama adalah untuk berusaha demi kesembuhan atau perbaikan keadaan penderita. Tim geriatri inti terdiri atas geriatris atau dokter yang telah dilatih mengenai geriatri, seorang perawat dan seorang tenaga sosiomedik. Semakin kompleks dan semakin tinggi tingkat pelayanan geriatrinya, keanggotaan tim bisa ditambah dengan tenaga nutrisi (dokter atau petugas gizi), rehabilitasi medik (dokter dan terapis dari semua modalitas), farmasist, psikolog atau psikiater, rohaniawan dan yang terakhir, keluarga penderita. Disamping tim geriatri, pada rumah sakit yang menyediakan pelayanan geriatri paripurna juga disediakan konsultan, yang dapat dimintai bantuan mengenai expertise dan/atau tindakan yang perlu dikerjakan pada penderita tersebut.

    Demikianlah dengan suatu tim geriatri yang dikepalai dan dikoordinatori oleh seorang geriatris, dengan tatacara diagnosis asesmen geriatrik komprehensif tatalaksana semua masalah kesehatan seorang penderita geriatri dapat dilakukan.

    Kesimpulan
    Ilmu dan pelayanan geriatri bukan saja merupakan ilmu dan pelayanan kesehatan yang relatif baru (di tempat asalnya ilmu ini baru dimulai saat awal perang dunia II) dan di Indonesia pengetahuan tentang ilmu ini baru dikemukakan oleh Prof. R. Boedhi Darmojo pada akhir tahun 1960-an, sehingga sebagai suatu pelayanan medis, baru akhir-akhir ini saja diharuskan untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, penjelasan mengenai tatacara pelaksanaannya secara baik dan benar perlu dipahami dan diketahui oleh semua tenaga kesehatan di berbagai pelayanan kesehatan. Mudah-mudahan tulisan ini berguna untuk penambahan ilmu bagi dokter atau tenaga kesehatan lain.geriatri 3

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Burvill ,PB. Psychiatric assessment of the elderly. Warne RW and Prinsley DM (eds) A manual of geriatric care. William and Wilins and ass.,Sidney. 1988;,53-65.
    2. Coni,N , Davidson, W and Weber,S. The Geriatric Department. Lecture Notes in Geriatric Medicine.
    3. Editor. The role of consultant Physician in Geriatric Medicine. The Newsletter,The Australian Society of Geriatric Medicine. September 1996.
    4. Hadi Martono. The Department Of Geriatric and Rehabilitation Medicine, a comparative study from The Royal Adelaide Hospital and its possible application in Indonesia. Paper presented at The Royal Adelaide Hospital.1987.
    5. Hadi Martono. Aspek fisiologik dan patologik pada usia lanjut. Lokakarya Geriatri, Bagian/UPF I, Penyakit Dalam FK UNDIP/RS Dr.Kariadi. Semarang 1993.
    6. Hadi Martono. Beberapa prinsip Geriatri. Simposium Geriatri dalam KOPAPDI Padang. Juli 1996
    7. Kane RL, Ouslander JG and Abrass I. The Geriatric Department. In Essestials of Clinical Geriatric. Mc Graw-Hill Inform.Serv.Coy. 1989.
    8. Maguire GH, et al. The Team approach in action. Maguire,GH (ed) Care of the elderly, a health team approach. Little Brown and Coy, Boston. 1985:221-269
    9. Mykita L. Aged care, the south Australia experience. Simposium Lansia menjelang tahun 2000. Jakarta. 1992.
    10. Stieglietz EJ. Geriatric Medicine 3rd edit, JB Lippincpot Co, Philadelphia, London, Montreal, 1954
    11. Hadi Martono. Asesmen Geriatri. Prosiding Simposium Geriatri dalam rangka mengantar purna-bakti Prof.R.Boedhi_Darmojo. 1994.
    12. Shaw MW. The challenge of aging. Churchill-Livingstone, Melbourne. 1984:76-83.
    13. Boedhi-Darmojo R. Teori Proses Menua. Boedhi Darmojo dan Hadi-Martono (eds) edisi 3 Buku Ajar Geriatri. Balai Penerbit FKUI. 1999:3-33

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream