logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Mitos dan Fakta Epilepsi

    Mitos dan Fakta Epilepsi

    Prof. dr. Zainal Muttaqin Ph.D, Sp.BS (K)
    Spesialis Bedah Saraf dan Konsultan Epilepsi SMC RS Telogorejo Semarang

    Penyakit epilepsi atau ayan adalah kondisi yang dapat menjadikan seseorang mengalami kejang secara berulang, menurut Prof. dr. Zainal Muttaqin Ph.D, Sp.BS (K), spesialis bedah saraf dan konsultan epilepsi SMC RS Telogorejo, banyak mitos yang berkembang di masyarakat mengenai penyakit epilepsi, tak sedikit yang mengira bahwa penyakit ini diakibatkan oleh hal gaib. Prof. Zainal menjelaskan bahwa epilepsi merupakan gangguan yang berada diarea otak dengan frekuensi minimal 2 kali dalam 12 bulan, dan tentunya seorang dokter saraf dapat memutuskan seorang pasien menderita epilepsi setelah menjalani beberapa pemeriksaan. Beberapa hal yang sering menjadi pertanyaan di masyarakat dan telah dijelaskan oleh Prof. Zainal antara lain :

    Gejala epilepsi pada bayi atau anak
    Pada bayi atau anak, gejala epilepsi yang mereka alami memiliki beberapa tanda awal dan patut menjadi perhatian oleh orang tua.
    – Spasme otot (kejang otot) pada anak yang ditengarai menderita epilepsi biasanya terjadi saat keempat anggota badannya terangkat, seperti kedua lengan dan kaki.
    – Sikap diam tiba-tiba dan mata yang melirik pada satu sisi, dapat juga diwaspadai menjadi salah satu gejala epilepsi pada anak. Setelah sikap diam ini, sang anak biasanya mengeluarkan air liur atau bibirnya seperti mengecap
    – Drop attack, merupakan kejadian saat tenaga anak tiba-tiba menjadi lenyap, sebagai contoh saat sedang duduk, kepala anak tiba-tiba terantuk, atau saat sedang bermain, sang anak tiba-tiba jatuh. Menurut Prof. Zainal, kejadian ini dapat juga disebut gejala epilepsi atomic

    Keakuratan EEG pada diagnosa Epilepsi
    Prof. Zainal menegaskan bahwa pemeriksaan EEG pada epilepsi bukan merupakan tindakan mutlak untuk mengetahui penyakit epilepsi pada pasien. Sebanyak 30% pasien yang Prof. Zainal tangani, pasien epilepsi justru mendapatkan hasil EEG yang normal. Oleh karena itu, seorang pasien yang mengalami epilepsi harus terus dipantau dan dimonitor dengan EEG sampai pasien mengalami kejang. Observasi ini dilakukan minimal selama 24 jam hingga 2 minggu.

    Kejang pada anak akan membuat sel otak anak rusak
    Akibat serangan epilepsi yang terus menerus dan disertai kejang, pasokan oksigen ke otak akan terganggu dan menyebabkan rusaknya 50 sel otak dalam satu kali kejang. Terlihat sedikit memang dibanding milyaran sel otak yang ada di manusia, namun jika serangan terus terulang, hal ini akan menyebabkan kepandaian anak menjadi hilang. Kejang yang tidak teratasi pada usia 5 – 6 tahun, dapat menyebabkan Retardasi Mental atau penurunan fungsi intelektual. “Penanganan epilepsi pada anak atau bayi harus lebih agresif, jika terapi obat tidak juga dapat teratasi, orang tua pasien harus memikirkan cara lain” Jelas Prof. Zainal

    Pengaruh obat epilepsi pada fungsi ginjal dan hati
    Prof. Zainal menganjurkan bahwa semua pasien yang minum obat jangka panjang untuk melakukan pengecekan di laboratorium. “Pastinya selama dosis obat diatur oleh dokter, tidak akan pernah ada gangguan fungsi hati dan ginjal, namun tetap dianjurkan untuk melakukan pengecekan” Tegas Prof. Zainal.

    Penularan Epilepsi dan penyakit turunan ke Anak
    “Epilepsi bukan penyakit menular” Tegas Prof. Zainal. Penyebab utama epilepsi adalah adanya gangguan pada otak. 92% penyebab epilepsi adalah adanya gangguan pada otak di bulan pertama dan kedua pembentukan otak di janin. Yang jadi masalah, menurut Prof. Zainal, banyak Ibu yang tidak tahu bahwa dia hamil di 2 bulan pertama. Karena ketidaktahuannya, beberapa Ibu mengalami sakit berat dan menkonsumsi obat yang ternyata tidak cocok untuk kehamilannya. Beberapa Ibu juga ada yang mengalami pendarahan selama kehamilan, beberapa diantaranya disebabkan karena letak plasenta yang tidak tepat. Akibatnya, pasokan makanan dan oksigen pada janin akan terganggu. Proses kelahiran yang terganggu juga menjadi faktor gangguan otak pada bayi, kurangnya pasokan oksigen pada bayi akan menyebabkan epilepsi pada usia 15 – 20 tahun. Hanya terdapat 8% faktor genetik yang menjadi penyebab epilepsi. Salah satu faktor genetik adalah kejang demam yang dialami oleh anak. Namun, kejang demam ini akan hilang sendiri saat anak berusia 5 – 6 tahun.

    Penularan epilepsi melalui air liur
    “Apapun penyebabnya, epilepsi bukanlah penyakit yang menular, apalagi dikatakan tidak berani menolong orang yang kejang karena busa yang ada dimulut penderita bisa menularkan epilepsinya” kata Prof. Zainal. Busa dimulut penderita epilepsi disebabkan oleh kelenjar air liur yang ada dimulut setiap orang. Jika penderita mengalami kejang dan kelenjar liur sedang penuh isinya, kejang yang dialami penderita akan mendorong isi kelenjar liur keluar mulut dalam bentuk busa. Hal yang sama terjadi jika kandung kemih penderita dalam keadaan terisi, kejang yang dialami penderita akan mendorong isi kandung kemih penderita dan mengalami ngompol. “Jadi tidak ada kaitannya antara air liur dengan penularan epilepsi” jelas Prof. Zainal

    Beberapa fakta dan mitos mengenai epilepsi lainnya seperti pengaruh epilepsi dengan kejiwaan dan epilepsi saat hamil memicu eklamsi juga dijelaskan oleh Prof. Zainal dalam video edukasi SMC RS Telogorejo dibawah ini :

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream