logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Pria Terinfeksi Covid – 19, Berisiko Disfungi Ereksi

    Pria Terinfeksi Covid – 19, Berisiko Disfungi Ereksi

    dr. Andrian, Sp.And.
    Spesialis Andrologi SMC RS Telogorejo Semarang

    Disfungsi ereksi dapat diartikan secara harafiah sebagai gangguan ereksi. Pengertian ereksi adalah kemampuan dari alat kelamin pria untuk membesar dan mengeras.Secara medis,disfungsi ereksi didefinisikan sebagai ketidakmampuan mencapai dan mempertahankan ereksi untuk melakukan hubungan seksual yang baik dalam kurun waktu tiga bulan. Disfungsi ereksi bukan hanya tidak dapat membesar dan mengeras, tetapi cepat ‘gembos’ juga masuk ke dalam diagnosis penyakit ini. Di dalam penis banyak terdapat anyaman pembuluh darah, yang mirip dengan spons. Pembuluh darah ini bisa melebar, dan memuat banyak darah sehingga ‘melar’ serta menampung sangat banyak darah sehingga menjadi keras. Ibarat balon yang diisi angin, maka balon itu akan membesar lalu mengeras.

    Derajat kekerasan ereksi dibagi menjadi beberapa tingkatan, dari skala 0 (nol) yaitu tidak ereksi, hingga skala 4 (empat) merupakan skala ereksi normal pada dewasa muda atau keras maksimal.

    disfungsi ereksi

    Penyebab terjadinya disfungsi ereksi dibagi menjadi dua bagian besar, yakni organik dan psikogenik. Organik artinya disfungsi ereksi yang disebabkan oleh gangguan organ dalam tubuh, misalnya : gangguan pembuluh darah, gangguan saraf, gangguan hormonal, adanya perlukaan pada jaringan penis, efek samping operasi, efek samping pengobatan penyakit lain. Penyebab paling banyak berasal dari kerusakan pembuluh darah, misalnya: penyumbatan, kekentalan darah yangmeningkat, gangguan kemampuan pembuluh darah untuk melebar dan gangguan elastisitas pembuluh darah. Hal ini disebabkan oleh pola hidup yang salah seperti merokok, kurang olahraga, dan obesitas atau kegemukan.Penyebab kedua yaitu, psikogenik artinya penyebab disfungsi ereksi berasal dari pikiran, stres, dan juga tekanan kejiwaan dalam diri penderita tersebut.“Saat ini sedang marak tentang virus covid-19. Bagi penyintas covid-19, salah satu efeknya dapat terjadi disfungsi ereksi setelah dinyatakan negatif covid-19. Sebagai salah satu penyebabnya adalah virus ini akan merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang ke organ penis, sehingga ereksi terganggu, selain gangguan oksigenasi jaringan sebagai akibat infeksi virus ini pada paru- paru. Bagi orang yang tidak terinfeksipun juga dapat mengalami gangguan ereksi jika memiliki rasa cemas yang berlebih, terutama saat pandemi ini, cemas tertular, cemas karena ekonomi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan karena adanya adanya gangguan hormonal di sistem saraf pusat” demikian ungkap dokter spesialis Andrologi SMC RS Telogorejo, dr. Andrian, Sp. And. “Namun begitu, diperlukan penelitian lebih lanjut lagi terkait resiko disfungsi ereksi bagi pria terinfeksi covid-19 tersebut. Maka sebaiknya untuk tetap mematuhiprotokol kesehatan, karena pencegahan itu lebih baik” lanjut dr. Andrian.

    Diagnosis gangguan ereksi ditegakkan berdasarkan wawancara, dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti USG dan pemeriksaan darah. Pengobatannya, pada lini pertama dapat diberikan obat minum dengan pemberian tambahan hormon testosteron atau menggunakan alat khusus. Saat ini banyak beredar obat disfungsi ereksi dijual secara bebas, baik itu di toko obat kuat pinggir jalan, maupun toko online.Jika penggunaan dan dosisnya salah maka dapat menimbulkan efek samping yang serius, dari tekanan darah menjadi anjlok, hingga pingsan. Pada lini kedua digunakan obat yang disuntikkan langsung ke penis, hanya saja obat tersebut belum masuk di Indonesia. Apabila seluruh terapi gagal, maka lini ketiga yakni operatif. Adapun untuk terapi alternatif yakni penggunaan modalitas gelombang kejut pada penis dengan menggunakan alat Li-ESWT, bertujuan untuk merangsang pembentukan pembuluh darah baru. Jenis terapi lainmisalnya latihan otot dasar panggul dan akupunturuntuk membantu meringankan gejala yang muncul.

    Target terapi adalah mengembalikan derajat ereksi kembali menjadi skala 4. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang gangguan organ yang dialami sudah sangat berat, sehingga skala 4 menjadi suatu keniscayaan. Target tentu harus realistis, paling tidak dapat melakukan penetrasi. Dokter juga perlu melihat penyakit penyertanya. Misal pasien dengan payah jantung yang berat,tentu tidak akan dipaksakan menjadi skala 4. Dalam hal ini pendapat ahli jantung dan ahli rehabilitasi medik mutlak diperlukan untuk menilai dan memperbaiki fungsi jantung,serta menilai kebugaran fisik untuk aktivitas yang optimal pada kondisi tersebut.

    Disfungsi ereksi dapat merupakan pertanda bahwa terjadi kerusakan pembuluh darah, dan jika tidak ditangani dapat terjadi penyakit jantung koroner. Tidak hanya yang berusia lanjut yang dapat mengalami gangguan ini, namun usia relatif muda pun dapat mengalami gangguan ereksi. Bagi pasien dengan penyakit penyerta seperti kencing manis, tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, pasien pasca strok, pasca serangan jantung, pasca operasi prostat, dan mengeluhkan gangguan yang mereka alami ini, maka sebaiknya segera disampaikan ke dokter yang merawat. Dokter Andrian mengatakan “Jika memiliki keluhan jangan malu menyampaikan hal tersebut pada dokter, karena semakin awal dilakukan diagnosa, dan ditangani maka hasil terapi akan semakinbaik. Diharapkan pengetahuan tentang disfungsi ereksi meningkatkan mawas diri dan kemauan untuk memeriksakan diri. Jangan malu untuk konsultasi. Semua yang pasien ceritakan kepada dokter adalah rahasia medis yang tidak mungkin dibocorkan.”

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream