logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Skin Aging

    Skin Aging

    dr. Agnes Sri Widayati, Sp.KK, FINSDV
    Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

    Definisi Penuaan
    Menua didefinisikan sebagai proses yang mengubah seseorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail (lemah, rentan) dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial(1,2). Penuaan merupakan suatu proses penurunan fungsi dan kapasitas cadangan maksimal dari semua organ tubuh secara progresif, termasuk kulit. Penurunan fungsi kulit yang terjadi secara alamiah ini sering dipersulit dan dipercepat oleh sejumlah gangguan kronik dari lingkungan, misalnya seperti paparan radiasi ultraviolet (UV) dan infra merah (IR) serta sejumlah karsinogen dari lingkungan yang berasal dari polusi udara di sejumlah kota besar(3).

    Teori Penuaan Proses penuaan kulit berlangsung secara perlahanlahan. Batas waktu yang tepat antara terhentinya pertumbuhan fisik dan dimulainya proses penuaan tidak jelas, tetapi umumnya sekitar usia pertengahan dekade kedua mulai terlihat tanda penuaan kulit. Berbagai teori tentang proses penuaan telah dikemukakan, antara lain:

    a. Teori Radikal Bebas
    Teori radikal bebas (Free Radical Theory of Aging) diperkenalkan pertama kali oleh Denham Harman pada tahun 1956, yang menyatakan bahwa proses menua normal merupakan akibat kerusakan jaringan akibat radikal bebas. Harman menyatakan bahwa mitokondria sebagai generator radikal bebas, juga merupakan target kerusakan dari radikal bebas tersebut(1,2). Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektron yang tidak berpasangan yang terbentuk sebagai hasil sampingan berbagai proses selular atau metabolisme normal yang melibatkan oksigen. Sebagai contoh adalah reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS) yang dihasilkan selama etabolisme  normal. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal bebas akan mencari pasangan elektron lain dengan bereaksi dengan substansi lain terutama dengan protein dan lemak tidak jenuh. Struktur di dalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga diselimuti oleh membran yang mengandung lemak, sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas(3,4).

    Radikal bebas juga dapat bereaksi dengan DNA menyebabkan mutasi kromosom dan karenanya merusak mesin genetik normal dari sel. Radikal bebas dapat merusak fungsi sel dengan merusak membran sel atau kromosom sel. Lebih jauh, teori radikal bebas menyatakan bahwa terdapat akumulasi radikal bebas secara bertahap di dalam sel sejalan  dengan waktu, dan apabila kadarnya melebihi konsentrasi ambang maka mereka mungkin berkontribusi pada perubahan-perubahan yang seringkali dikaitkan dengan penuaan(1,2,3).

    b. Teori DNA repair
    Teori ini dikemukakan oleh Hart dan Setlow. Mereka menunjukan bahwa adanya perbedaan pola lajur ”repair” atau perbaikan kerusakan DNA  yang diinduksi sinar ultraviolet (UV) pada berbagai fibroblast yang dikultur. Fibroblast pada spesies yang mempunyai umur maksimum terpanjang menunjukan laju perbaikan DNA terbesar, dan korelasi ini dapat ditunjukan pada berbagai mamalia dan primata. Teori DNA repair atau lebih tepatnya mitochondrial DNA repair ini terkait erat dengan teori radikal bebas. Karena, sebagian besar radikal bebas (terutama ROS) dihasilkan melalui fosforilisasi oksidatif yang terjadi di mitokondria. Mutasi DNA mitokondria (mtDNA) dan pembentukan ROS di mitokondria saling mempengaruhi satu sama lain, membentuk “vicious cycle” yang secara eksponensial memperbanyak kerusakan oksidatif dan disfungsi selular, yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel. Mutasi mtDNA di manusia terutama terjadi setelah umur pertengahan tiga puluhan, terakumulasi seiring bertambahnya umur dan jarang melebihi 1%. Rendahnya jumlah mutasi mtDNA yang terakumulasi ini diakibatkan proses repair pada kerusakan oksidatif yang merupakan penyebab  percepatan proses penuaan  (accelerated aging)(1).

    Individu dengan kemampuan perbaikan DNA yang normal pun akan tetap mengalami akumulasi kerusakan DNA dalam sel sepanjang hidup mereka, yang pada akhirnya dapat mengganggu proses metabolisme dan fungsi seluler. Salah satu sistem yang nampak lebih rentan mengalami kerusakan DNA adalah growth hormone dan insulin growth factor(1,2).

    c.   Teori Pacemaker atau Endokrin
    Teori ini mengatakan bahwa proses menjadi tua diatur oleh pacemaker, seperti kelenjar timus, hipotalamus, hipofisis, dan tiroid yang menghasilkan hormon-hormon, dan secara berkaitan mengatur keseimbangan hormonal dan regenerasi sel-sel tubuh manusia. Proses penuaan terjadi akibat perubahan keseimbangan sistem hormonal atau penurunan produksi hormon-hormon tertentu(2).

    Berbagai penelitian pada tikus menunjukan bahwa keadaan panhypopituitarisme dengan defisiensi jelas pada hormon tirotropin, prolaktin, dan growth hormone (GH) akan memperpanjang usia pada hewan-hewan tersebut dibandingkan kontrol. Tikus mutan yang rendah jumlah reseptor IGF-1 nya menunjukan konsumsi makanan dan energy expenditure yang lebih rendah dibandingkan tikus kontrol. Tikus mutan juga lebih tahan terhadap stress oksidatif akibat pemberian bahan oksidan (radikal bebas), sehingga kerusakan pada DNA, protein, dan lipid lebih rendah dibandingkan tikus kontrol. Hal-hal ini nampaknya juga sesuai dengan teori penuaan yang telah diuraikan diatas(1).

    d. Teori Glikosilasi
    Teori ini menyatakan bahwa proses glikosilasi non-enzimatik yang menghasilkan pertautan glukosa-protein yang disebut sebagai advanced glycation end products (AGEs) dapat menyebabkan penumpukan protein dan makromolekul lain yang termodifikasi sehingga menyebabkan disfungsi pada hewan  atau manusia yang menua. Protein glikasi menunjukan perubahan fungsional, meliputi menurunnya aktivitas enzim dan menurunnya degradasi protein abnormal. Manakala manusia menua, AGEs berakumulasi di berbagai jaringan, termasuk kolagen, haemoglobin, dan lensa mata(1,2).

    Karena muatan kolagennya tinggi, jaringan ikat menjadi kurang elastis dan lebih kaku. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi elastisitas dinding pembuluh darah. AGEs diduga juga berinteraksi dengan DNA dan  karenanya mungkin mengganggu kemampuan sel untuk memperbaiki perubahan pada DNA(1).

    e.   Teori Pemanjangan Telomer
    Setiap sel mempunyai kemampuan untuk membelah diri untuk mempertahankan fungsinya dan memperlambat kematian. Kemampuan untuk membelah diri ini terjadi sampai sel-sel tersebut cukup padat untuk saling bertemu satu sama lain, untuk kemudian berhenti untuk membelah diri, untuk kemudian berhenti untuk membelah diri, suatu fenomena yang disebut “contact inhibition”. Saat sel-sel sudah kehilangan kemampuan untuk membelah diri kembali. Sel-sel tersebut kemudian akan membesar, bertahan beberapa lama, untuk kemudian perlahan-lahan akan mati(1).

    Terbatasnya sel-sel untuk membelah diri setelah 50 kali dikenal dengan fenomena Hayflick atau “Hayflick limit”. Fenomena Hayflick ini ternyata berhubungan dengan panjang telomer suatu sekuensi DNA pada ujung setiap kromosom manusia. Setiap kali sel membelah, maka telomer ini akan semakin pendek, sampai suatu saat telomer tidak dapat memendek lagi. Telomer yang sudah sangat pendek akan menjadi sinyal untuk memicu terjadinya penuaan proliferatif atau apoptosis, sehingga turut berperan pada munculnya fenotipe penuaan. Oleh karena itu, telomer nampak berperan sebagai suatu jam biologis yang menentukan masa hidup proliferatif maupun tingkat fungsional dari sel(1,2).

    f. Teori Imunitas
    Sistem imun memiliki dua peranan yang utama : pertahanan terhadap serangan eksternal dan pengawasan imunologis internal. Penuaan sistem imunitas umumnya ditandai oleh berkurangnya jumlah sel T memori, berkurangnya populasi sel T naif, serta gangguan sistem imunitas humoral dan seluler. Kondisi inflamasi kronik, berkurangnya imunitas terhadap sejumlah antigen eksogen, dan meningkatnya autoreaktivitas nampak mengganggu kemampuan untuk melawan serangan dari lingkungan. Pada proses penuaan, peningkatan jumlah spesies oksigen reaktif (ROS) di dalam sel akan menyebabkan terjadinya stres oksidatif dan turut berperan dalam memicu terjadinya inflamasi ringan.

    Selain itu, pengangkutan elektron mitokondria selama proses fosforilasi oksidatif juga nampak mengalami gangguan pada penuaan, sehingga menyebabkan masuknya ROS proinflamasi ke dalam sitoplasma. Ketidakseimbangan ROS ini turut berperan dalam menyebabkan terjadinya penuaan sistem imunitas yang diawali dengan berkurangnya respon imunitas alamiah dan berujung pada terganggunya respon imunitas adaptif. Berbagai kelainan ini nampak turut berperan dalam meningkatnya kejadian infeksi dan keganasan pada usia lanjut(5).

    Proses Menua Intrinsik (Intrinsic Aging; True Aging; Chronologic Aging)
    Proses ini disebut juga proses menua fisiologik yang berlangsung secara alamiah yang disebabkan oleh berbagai faktor-faktor fisiologik dari dalam tubuh sendiri yang terdiri atas(6,7,8) :

    a. Keturunan (genetik)
    Faktor genetik mempengaruhi saat mulai terjadi proses menua pada seseorang seperti pada orang yang memiliki jenis kulit kering cenderung mengalami proses menua kulit lebih awal.

    b. Rasial
    Manusia terdiri dari bermacam-macam ras dan masing-masing mempunyai struktur kulit yang berbeda terutama yang berperan di dalam sistem pertahanan tubuh terhadap lingkungan seperti peranan pigmen melanin sebagai proteksi terhadap sinar matahari. Ras kulit putih lebih mudah terbakar sinar matahari (sunburn), lebih mudah terjadi gejala kulit menua dini, pra kanker kulit dan kanker kulit di banding ras kulit berwarna hitam.

    c. Hormonal
    Pengaruh hormon sangat erat hubungannya dengan umur. Proses menua fisiologis lebih jelas terlihat pada wanita yang memasuki masa klimakterium atau menopause. Pada masa itu, penurunan fungsi ovarium menyebabkan penurunan produksi hormon seks seperti hormon estrogen berkurang dan akibatnya akan terjadi atrofi sel epitel vagina, pengecilan payudara, timbul tanda-tanda menua pada kulit seperti kulit menjadi lebih kering dan elastisitasnya berkurang.

    Proses Menua Ekstrinsik (Extrinsic Aging)
    Proses ini terjadi akibat berbagai faktor dari luar tubuh yang dapat menyebabkan proses menua dini kulit sehingga menampilkan wajah yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Penuaan ekstrinsik ini berbeda dalam gambaran klinis, histologi serta hubungan dengan kejadiaan keganasan. Perubahan akibat faktor eksternal ini dapat terjadi bahkan sebelum terjadinya proses penuaan intrinsik, antara lain(6,7,9) :

    a. Sinar matahari dan radikal bebas
    Sinar matahari merupakan faktor utama penyebab terjadinya proses menua kulit. Penuaan dini yang terjadi akibat paparan sinar matahari disebut dengan photoaging (dermatoheliosis). Perubahan pada epidermal yang terjadi berupa peningkatan pigmentasi (misalnya lentigines atau hiperpigmentasi yang disertai epidermis yang atrofi atau hipertrofi), hiperkeratosis, elastosis dan basophilic appearance collagen yang menggantikan serabut kolagen(6,7).

    Perbedaan panjang gelombang sinar ultraviolet menyebabkan perubahan pada sel yang berbeda. Panjang gelombang sinar ultraviolet B (UVB) adalah 290-320 nm akan diabsorbsi oleh epidermis dan mempengaruhi keratinosit, sedangkan panjang gelombang sinar ultraviolet A (UVA) 320-340 nm mempengaruhi keratinosit dan fibroblast di dermis. Sinar UVA penetrasinya lebih dalam dibandingkan sinar UVB namun, keduanya merupakan faktor penyebab terjadinya photoaging(8,10).

    radiasi ultravioletPatogenesis radiasi sinar ultraviolet mempengaruhi mutasi pada DNA mitokondria (mtDNA)

    Enzim MMP berperan pada patogenesis photoaging yang berfungsi pada degradasi kolagen. Sinar ultraviolet akan menginduksi enzim MMP, sehingga akan terjadi peningkatan degradasi protein matriks dermal, seperti kolagen tipe I, II, dan III oleh MMP-1, serta  kolagen tipe IV, V dan gelatin oleh MMP-9.5,6,7(11). Pembentukkan bahan elastotik amorf (5,10,12).

    Radiasi ultraviolet dari sinar matahari akan diabsorbsi oleh kulit dan menghasilkan reactive oxygen species (ROS), yang dapat menimbulkan kerusakan pada tingkat sel, seperti pada dinding sel, membran lipid, DNA dan mitokondria. Radiasi ultraviolet pada kulit manusia akan menimbulkan eritema, dan juga terjadi peningkatan AP-1, yang merangsang degradasi kolagen dalam 24 jam setelah pajanan. AP-1 akan meningkatkan kerja enzim MMP sehingga degradasi kolagen akan meningkat setelah pajanan ultraviolet. Selain itu, ultraviolet juga menurunkan ekspresi TGF-ß, yang berperan pada pembentukan kolagen, sehingga dengan penurunan ekspresi TGF-ß akan terjadi penurunan pembentukan kolagen. Oleh karena itu, pada proses penuaan terjadi peningkatan degradasi kolagen serta penurunan pembentukan kolagen, yang menimbulkan menifestasi klinis berupa solar scar atau kerut(8,10,12,13).

    kulit 1raGambaran terjadi respons kulit berupa atrofi akibat papanan sinar matahari (photodamage) dan multiple actinic keratoses(14)

    respon kulit2Photoaging: heliodermatitis. Terbentuk kerutan yang bermakna, perubahan warna menjadi lebih kuning, dan permukaan yang kasar bergelombang (solar elastosis) disertai folikel yang tersumbat di leher. Panah menunjukkan gambaran lesi keratosis aktinik berukuran kecil(3)

    b. Merokok
    Salah satu faktor eksternal yang berperan pada proses penuaan adalah rokok, terutama pada wanita, dimana terdapat hubungan antara jumlah pak rokok dengan keparahan kerut dan perubahan pigmentasi. Perokok tampak lebih tua dibandingkan non-perokok, terutama pada area wajah. Penebalan dan fragmentasi serabut elastik ditemukan pada pemeriksaan histopatologi, seperti yang terjadi pada penuaan kulit akibat radiasi ultraviolet. Bahkan, perubahan serabut elastik pada kulit perokok tidak hanya terjadi pada papila dermis, tetapi hingga retikular dermis(6,8).

    Rokok juga dapat menyebabkan penurunan hidrasi stratum korneum, percepatan hidroksilasi estradiol sehingga estrogen pada kulit menurun dan menyebabkan kulit kering dan atrofi. Dasar molekular rokok sebagai salah satu faktor pada proses penuaan masih belum jelas, tetapi secara penelitian in vitro didapatkan bahwa rokok akan menginduksi MMP-1 dan MMP-3 pada mRNA di fibroblast kulit. Walaupun demikian, rokok tidak mempunyai efek pada tissue inhibitor of metalloproteinase-1 (TIMP-1) dan TIMP-3 pada mRNA(6,8,11).

    Perubahan Yang Terjadi Pada Struktur Kulit Akibat Penuaan

    a. Epidermis
    Pada usia lanjut, kulit sering nampak kering dan mengelupas, terutama di ekstremitas bawah, suatu area yang dilaporkan mengalami penurunan kandungan filaggrin epidermis yang bermakna terkait proses penuaan dan kekurangan filaggrin diperkirakan dapat meningkatkan pembentukan skuama pada kedua kondisi di atas. Hasil dari sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar vitamin D terkait penuaan dalam mempercepat proses penuaan dan mendukung pendapat untuk memberikan suplementasi vitamin D dalam diet pada usia lanjut(2,6,8,).

    b.   Dermis
    Berkurangnya ketebalan dermis dapat mencapai 20% pada individu usia lanjut, meskipun pada bagian tubuh yang tidak terpapar matahari baru akan terjadi penipisan yang bermakna setelah usia 80 tahun. Dermis usia lanjut umumnya relatif nampak aseluler dan avaskuler, serta ditemukan adanya penurunan jumlah serabut elastis dan kolagen dermis terkait penuaan. Mikrovaskularisasi dermis pada usia lanjut atau paruh baya juga dapat menunjukkan sedikit penebalan dinding pembuluh darah, terutama di kaki bagian bawah akibat efek dari gaya gravitasi pada pasien berusia lanjut juga ditemukan adanya penipisan dinding pembuluh darah menjadi kurang dari separuh ukuran normal pada dewasa muda, yang nampak berhubungan dengan hilang atau berkurangnya sel selubung perivaskuler, dan ini mungkin turut berperan pada kerentanan pembuluh darah(2,9).

    c. Saraf dan Rangsangan pada Kulit
    Di akhir dekade kelima, kira-kira setengah populasi mempunyai setidaknya 50 persen bulu badan abu-abu (putih) dengan proporsi rambut kepala yang mengalami depigmentasi yang bahkan lebih tinggi, dan semua orang mengalami pemutihan rambut sampai tingkat tertentu, disebabkan kehilangan melanosit progresif. Rambut kepala bisa menjadi abu-abu lebih cepat daripada bulu tubuh lainnya karena ratio anagen dan telogennya lebih besar secara berarti daripada ratio bulu tubuh lainnya. Usia lanjut juga disertai dengan penurunan sedikit dalam jumlah folikel rambut. Rambut yang tersisa bisa berdiameter lebih kecil dan tumbuh lebih lambat(2,7,14).

    d. Efek Menopause
    Estrogen memainkan peranan penting pada proses perkembangan dan reproduksi wanita, serta dapat mempengaruhi kondisi kulit serta rambut. Berkurangnya kadar estrogen nampak memiliki sejumlah efek fisiologis yang berbeda, termasuk hot flushes, atrofi jaringan reproduksi, dan berbagai perubahan pada jaringan nonreproduktif yang sensitif terhadap estrogen. Selain itu, berkurangnya kadar estrogen dalam sirkulasi nampak berhubungan dengan berkurangnya kandungan kolagen dermis, meningkatnya ekstensibilitas, berkurangnya elastisitas kulit, berkurangnya kapasitas penampungan air, meningkatnya kekeringan, serta bertambahnya pembentukan kerutan halus nampak dilaporkan setelah memasuki masa menopause, begitu pula dengan berkurangnya kadar sebum(9,12).

    e. Relevansi dengan Penyakit Lain

    Xerosis dan Eksema Asteotik
    Xerosis merupakan kulit dengan kondisi kering dan kasar, yang dapat ditemui pada hampir semua individu usia lanjut dan dapat disebabkan oleh terjadinya gangguan proses maturasi epidermis, seperti tidak adekuatnya produksi filaggrin atau terjadinya perubahan profil lipid. Pemeriksaan histologis menunjukkan terjadinya sedikit perubahan pada epidermis yang viabel maupun stratum korneum seiring dengan proses penuaan(8,10).

    Eksema asteatotik, suatu kelainan yang sering ditemui pada individu usia lanjut di musim dingin, merupakan jenis dermatitis yang terjadi pada kulit yang mengalami xerosis. Kelainan ini sering disebabkan oleh adanya tingkat kelembaban yang rendah di lingkungan yang panas. Kelainan ini bermanifestasi sebagai kulit yang kering dan pecah-pecah, disertai dengan terbentuknya skuama halus, terutama di area pretibia(3).

     xerosisKulit yang mengalami xerosis

    Pruritus
    Pruritus didefinisikan sebagai sensasi tidak nyaman pada kulit yang menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Pruritus mungkin merupakan keluhan yang paling sering ditemui pada kulit individu usia lanjut. Pada mayoritas kasus, pruritus hanya disebabkan oleh xerosis, dan diperberat oleh tingkat kelembaban yang rendah, frekuensi mandi yang terlalu sering, atau paparan iritan pada kulit(2,10,13).
    Kombinasi dari tiga proses biologi yang berkaitan dengan usia juga dapat menyebabkan pruritus, yakni hilangnya fungsi barrier, penuaan sistem imun, dan neuropati. Pemahaman tentang fisiologi kulit berkaitan dengan penuaan ini dapat membantu dokter efektif mengobati banyak kasus pruritus(15,16).

    Ulkus
    Ulkus kronik akibat semua etiologi nampak lebih sering ditemui pada individu usia lanjut dibandingkan dengan individu yang berusia lebih muda, mungkin karena kombinasi dari gangguan proses penyembuhan luka dan prevalensi yang lebih tinggi dari sejumlah penyakit yang mendasari. Kelainan yang paling sering ditemui adalah ulkus pada kaki, umumnya pada kondisi insufisiensi vena kronik yang menyebabkan terjadinya hipertensi vena. Selain itu, penyakit seperti diabetes melitus dan penyakit aterosklerosis pada pembuluh darah perifer dapat turut berperan pada perkembangan ulkus (11,17).

    Pemfigoid bulosA. Bula tegang berukuran besar dan makula eritematosa dengan gambaran sejumlah vesikel kecil di atasnya pada paha dan kaki bawah.
    B.  Lesi urtikaria pada pemfigoid bulosa disertai adanya bula dan vesikel yang nampak tegang di daerah ketiak(17)

    Pemfigoid Bulosa
    Pemfigoid bulosa lebih sering ditemui setelah usia 60 tahun dibandingkan dengan individu yang berusia lebih muda, suatu predileksi yang sebagian dapat disebabkan oleh terjadinya peningkatan jumlah autoantibodi dalam sirkulasi terkait proses penuaan dan karena lapisan dermis-epidermis umumnya lebih mudah terpisah, meskipun beberapa jenis penyakit autoimun dan dermatosis berlepuh lain nampak tidak lebih sering ditemui pada usia lanjut. Berbagai perubahan yang terjadi pada membrana basalis terkait penuaan mungkin akan meningkatkan kerentanan untuk terjadinya proses penyakit ini.

    Erupsi Obat
    Angka kejadian dari semua jenis efek samping obat nampak mengalami peningkatan seiring proses penuaan, sebagian karena individu usia lanjut umumnya akan mengkonsumsi lebih banyak obat-obatan dibandingkan kelompok usia yang lebih muda dan sebagian karena adanya berbagai penyakit medis, termasuk gangguan fungsi ginjal, jantung, atau hepar, yang dapat menyebabkan terganggunya proses metabolismeatau ekskresi obat. Efek samping obat yang paling sering ditemui pada kulit adalah pruritus, eksantem, dan urtikaria, namun reaksi autoimun yang dipicu oleh obat, termasuk pemfigus, pemfigoid bulosa, dan lupus eritematosis, juga dapat terjadi pada usia lanjut. Anamnesis lengkap mengenai riwayat konsumsi obat resep maupun obat bebas nampak berperan penting untuk menegakkan diagnosis dan memberikan perawatan yang optimal pada pasien(11,13,17).

    Keratosis Seboroik
    Keratosis seboroik merupakan papul atau plakat jinak dengan ukuran dan warna yang sangat bervariasi. Karena jumlahnya akan makin meningkat seiring dengan proses penuaan, tanpa terpengaruh oleh paparan sinar matahari, lesi ini dianggap sebagai salah satu biomarker penuaan intrinsik. Keratosis seboroik menunjukkan adanya proliferasi klonal dari keratinosit dan melanosit, kemungkinan akibat terjadinya gangguan homeostasis pada epidermis. Lesi ini tidak berpotensi ganas. Meskipun patogenis dari lesi keratosis ini masih belum dipahami sepenuhnya, keratinosit pada lesi nampak mengekspresikan endothelin-1 dalam jumlah besar dan melanosit pada lesi menunjukkan peningkatan ekspresi tirosinase, sehingga dibuat suatu hipotesis yang menyatakan bahwa disregulasi endothelin-1, salah satu pemicu melanogenis, dendritisitas, dan proliferasi melanosit, dapat memainkan peranan etiologis pada keratosis seboroik(4,17).

    Keratosis seboroik multipleKeratosis seboroik multiple

    Kanker Kulit
    Angka kejadian kanker kulit menurut usia, termasuk melanoma, nampak mengalami peningkatan secara eksponensial seiring bertambahnya usia, mungkin karena pengaruh dari paparan kumulatif terhadap karsinogen selama masa hidup seseorang, ditambah terjadinya pembelahan sel yang berisiko mengalami mutasi. Juga ditemukan terjadinya penurunan kapasitas perbaikan DNA dan imunosurvailans terkait penuaan, penurunan fungsi homeostasis proliferatif(4,17) .

    Faktor etiologis yang utama untuk terjadinya kanker kulit adalah paparan radiasi UV. Paparan sinar matahari secara terus-menerus pada individu berkulit putih dapat memicu terjadinya karsinoma sel skuamosa serta keratosis aktinik, suatu lesi pra-kanker yang dapat berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa tergantung pada dosis paparan sinar matahari yang diperoleh. Sebaliknya, risiko KSB (Karsinoma Sel Basal) dan melanoma maligna bukan hanya berhubungan dengan jumlah paparan sinar matahari total namun juga dengan terjadinya paparan sinar matahari intensitas tinggi secara intermiten. Mekanisme yang mendasari berbagai pola epidemiologis yang berbeda ini masih belum diketahui dengan jelas, meskipun terbentuknya respon protektif serta resistensi relatif dari beberapa tipe sel yang bertanggung jawab untuk terbentuknya kanker terhadap proses apoptosis dapat turut berperan(2,4,11).

    Karsinoma Sel MerkelKarsinoma Sel Merkel

    Kesimpulan
    Penuaan merupakan suatu proses penurunan fungsi dan kapasitas cadangan maksimal dari semua organ tubuh secara progresif, termasuk kulit. Penurunan fungsi kulit yang terjadi secara alamiah ini sering dipersulit dan dipercepat oleh sejumlah gangguan kronik dari lingkungan, misalnya seperti paparan radiasi ultraviolet (UV) dan infra merah (IR) serta sejumlah karsinogen dari lingkungan berasal dari polusi.

    Proses penuaan kulit nampak meliputi dua fenomena yang berbeda. Penuaan intrinsik merupakan suatu perubahan universal yang tidak dapat dihindari dan  hanya diakibatkan oleh berjalannya waktu saja; penuaan ekstrinsik adalah terjadinya berbagai kelainan di waktu yang bersamaan dengan proses penuaan intrinsik, yang diakibatkan oleh serangan kronik dari lingkungan, yaitu paparan sinar matahari, serta umumnya tidak bersifat universal dan dapat dihindari. Penuaan kulit ekstrinsik juga sering disebut sebagai photoaging, yang menunjukkan adanya peranan penting dari paparan sinar matahari kronik. Penuaan intrinsik umumnya bermanifestasi sebagai perubahan fisiologis dengan efek yang ringan meskipun memiliki konsekuensi penting bagi kulit yang sehat maupun sakit. Penuaan ekstrinsik umumnya dapat menghasilkan manifestasi morfologis maupun fisiologis yang bermakna dan nampak lebih mendekati definisi populer dari kulit yang menua.

    Meskipun menjadi tua adalah sesuatu yang harus terjadi, namun usahanya untuk mencegahnya tidak pernah surut. Berbagai cara dan upaya dapat dilakukan untuk mempertahankan agar kulit tetap sehat dan muda.

    DAFTAR PUSTAKA
    1. Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. VI. Jakarta: Interna Publisher; 2014. 3660 p. Martono H. Buku Ajar Boedhi Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). 4th ed. Jakarta: FK UI; 2014.
    2. Stordal E, Bosnes I, Bosnes O, Romuld EB, Almkvist O. Successfully aging elderly (SAE): A short overview of some important aspects of successful aging. Nor Epidemiol. 2012;22(2):103–8.
    3. Norman RA. Geriatric dermatology. dermatology Ther. 2003;16(260).
    4. Durai PC, Thapa DM, Kumari R MM. Aging in elderly: Chronological versus photoaging. Indian J Dermatol [Internet]. 2012; 57(343-352). Available from: http://www.e-ijd.org/article.asp?issn=0019-5154;year=2012;volume=57;issue=5; spage=343;epage=352;aulast=Durai
    5. Gilchrest, A Barbara and Krutmann J. Skin Aging. Germany: Springer; 2006
    6. Helfrich YR, Sachs DL, Voorhees JJ. Overview of Skin Aging and Dermatology Nurs. 2008;20(3):177–83.
    7. Panich U, Sittithumcharee G, Rathviboon N, Jirawatnotai S. Ultraviolet radiation-induced skin aging: The role of DNA damage and oxidative stress in epidermal stem cell damage mediated skin aging. Stem Cells Int.  2016;2016.
    8. Norman RA, Young, Jr EM. Atlas of Geriatric Dermatology [Internet]. 2014. Available from: http://link.springer.com/10.1007/978-1-4471-4579-0
    9. Chang ALS. Advances in geriatric dermatology. Advances in Geriatric Dermatology. 2015. 1-109 p.
    10. Puizina-Ivić N. Skin aging.  Acta dermatovenerologica Alpina, Pannonica, Adriat [Internet]. 2008;17(2):47–54.
    11. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1870928
    12. Stevenson S, Thornton J. Effect of estrogens on skin aging and the potential role of SERMs. Clin Interv Aging.  2007;2(3):283–97.
    13. Tuppurainen M, Saarikoski S. Estrogens and aging. Adv Neurol [Internet]. 2013;91(2):101–6. Available from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12442668
    14. Farage MA, Miller KW, Elsner P, Maibach HI. Intrinsic and extrinsic factors in skin ageing: A review. Int J Cosmet Sci. 2008;30(2):87–95.
    15. Garibyan L. Advanced Aging Skin and Itch: Addressing an Unmet Need. 2014;26(2):92–103.
    16. Foust KD, Kaspar BK. Pruritus in Elderly Patients—Eruptions of Senescence. 2010;8(24):4017–8.
    17. Chu D. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine Eight Edition. 8th ed. New York: Mc Graw Hill;2012.
    18. Bader, Robert S.Basal Cell Carcinoma Clinical Practice. Medscape. 2014; Available from : https://emedicine.medscape.com/article/276624-clinical
    19. Balin, Arthur K.Seborrheic Keratosis Treatment & Management . Medscape. 2017; Available from : https://emedicine.medscape.com/article/1059477-treatment

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream