logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • Humas SMC RS Telogorejo
    0811 - 2791 - 949
  • Tanda Stunting pada Janin dan Pencegahannya sejak Dini

    Tanda Stunting pada Janin dan Pencegahannya sejak Dini

    Kondisi fisik ibu dan bayi pada 1.000 hari pertama kehamilan sangat menentukan kesehatan dalam jangka panjang. Maka dari itu, Anda bisa memantau kesehatan buah hati sejak mereka masih di dalam kandungan, termasuk untuk memantau risiko dan tanda-tanda stunting. Sebab, jika dibiarkan, penyakit tersebut akan membuat tumbuh kembang fisik dan kognitif anak akan terhambat dalam jangka panjang. Jadi, apa saja tanda-tanda yang perlu diperhatikan, dan bagaimana cara mencegahnya? Simak di sini!

    Tanda-tanda Stunting pada Janin

    Menurut penjelasan dari dr. Sugono, M.Si.Med., Sp.OG selaku dokter spesialis kebidanan dan kandungan di SMC RS Telogorejo, Anda sudah dapat mendeteksi tanda-tanda stunting sejak trimester pertama kehamilan. Umumnya, janin sudah akan berkembang sejak usia kehamilan 3 minggu, dan Anda dapat melihat bentuknya melalui pemeriksaan USG di usia kehamilan 6 minggu.

    Akan tetapi, apabila janin belum kunjung terlihat pada alat pemeriksaan medis ketika usianya sudah mencapai 6 minggu, itu merupakan tanda bahwa janin mengalami keterlambatan perkembangan. Selain itu, berat badan janin yang lebih kecil daripada standar normal dan pola aliran darah di tali pusar yang terganggu juga merupakan tanda stunting pada janin.

    Faktor Risiko Stunting pada Janin

    Sugono, M.Si.Med., Sp.OG memaparkan bahwa risiko janin mengalami stunting sangat bergantung pada kesehatan fisik dan mental pihak ibu, seperti yang akan dijelaskan pada bagian berikut:

    1. Penyakit kronis di sisi ibu

    Ibu yang mengalami penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi memiliki risiko stunting pada janin yang lebih tinggi. Misalnya, pada penyakit hipertensi, pembuluh darah di seluruh tubuh ibu akan menyempit, termasuk pada plasenta. Sehingga, sel darah merah tidak bisa mengantarkan nutrisi ke janin dengan lancar, dan perkembangan janin pun akan lebih gampang terganggu.

    Kemudian, pada penyakit diabetes, tingkat gula darah yang tidak stabil juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, jumlah sel darah merah yang mengalir ke janin melalui tali pusat pun akan berkurang dan membuat bayi tidak bisa menerima gizi mencukupi dari ibu.

    2. Kurangnya asupan nutrisi ibu

    Bahkan ketika sang ibu tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, risiko stunting pada janin juga tetap ada apabila ia tidak menerapkan pola makan yang sehat. Sebab, menurut dr. Sugono, M.Si.Med., Sp.OG, kebiasaan tersebut tidak dapat memberikan gizi yang cukup untuk tubuh ibu. Pada akhirnya, hal ini akan memengaruhi nutrisi yang diterima oleh janin di dalam kandungan, sehingga perkembangannya pun terlambat.

    3. Tingkat stres ibu yang berlebih

    Tak hanya kondisi fisik, kesehatan bayi di dalam kandungan juga sangat ditentukan oleh kondisi mental seorang ibu. Sebab, dr. Sugono, M.Si.Med., Sp.OG menjelaskan bahwa tingkat stres yang terlalu tinggi dapat berdampak pada kualitas tidur ibu hamil. Padahal, porsi istirahat yang mencukupi merupakan kunci untuk regenerasi sel-sel organ tubuh dalam rangka menjaga fungsi dan perkembangannya, termasuk pada janin.

    Stunting memang bisa merugikan perkembangan anak, tapi Anda bisa mencegahnya sejak dini dengan mengetahui tanda-tandanya pada janin di sini!

    Cara Mencegah Stunting pada Janin

    Anda sebagai seorang ibu dapat mencegah stunting pada janin dengan mencukupi asupan gizi serta kebutuhan istirahat. Pertama, dr. Sugono, M.Si.Med., Sp.OG menyarankan Anda memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung asam folat, kalsium, vitamin D, protein, serta zat besi. Hal ini berguna supaya aliran sel darah merah ke janin tetap lancar dan dapat mengangkut semua gizi yang dibutuhkan untuk menunjang perkembangan fisik buah hati di dalam kandungan.

    Kemudian, dr. Sugono, M.Si.Med., Sp.OG juga menekankan pentingnya rutin berkonsultasi dengan ahli kesehatan di setiap trimester kehamilan. Sebab, melalui sesi konsultasi, Anda dapat memantau kondisi janin dan mengetahui tahapan perkembangan janin yang normal.

    Kapan Ibu Hamil Harus ke Dokter?

    Apabila Anda sering mengalami mual dan muntah pada trimester pertama kehamilan, dr. Sugono, M.Si.Med., Sp.OG merekomendasikan Anda berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pengecekan. 

    Alasannya, kedua gejala tersebut dapat menghambat pola makan yang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan janin. Lalu, ketika Anda berkonsultasi dengan dokter, Anda akan mendapatkan langkah-langkah perawatan dan terapi yang tepat untuk meredakan mual dan muntah supaya Anda tetap nyaman.

    Pencegahan stunting pada janin sudah bermula sejak 3 bulan pertama kehamilan. Kuncinya, Anda perlu menerapkan pola makan yang sehat dan memeriksakan kondisi janin dengan ahlinya. 

    Jika Anda berdomisili di sekitar Semarang, jangan ragu-ragu menjadwalkan sesi konsultasi dan pengecekan kandungan dengan dr. Sugono, M.Si.Med., Sp.OG di Poli OBGYN SMC RS Telogorejo melalui laman reservasi online atau menghubungi hotline 24 jam SMC RS Telogorejo di nomor 0816666340 dari sekarang!

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream