logo
  • Panggilan Kedaruratan
    024 - 845 7000
  • Reservasi & Call Centre
    024 - 8646 6000
  • Hotline BPJS
    0811 - 261 - 5046
  • International Corner
    081 - 1277 - 6767
  • Tes Darah Samar Feses

    Tes Darah Samar Feses

    Dr. dr. Purwanto A.P, Sp.PK (K)*)

    Pendahuluan

    Tes darah samar feses (faecal occult blood test) dilakukan untuk mendeteksi kanker usus besar pada pasien tanpa gejala usus yang nyata. Kejadian kanker usus besar sering terjadi dengan memberikan tanda adanya darah samar pada feses sebelum menyebabkan gejala lain seperti sakit perut, pendarahan rektum, atau perubahan kebiasaan buang air besar. Selain itu, beberapa prekursor kanker usus besar, khususnya pada beberapa jenis polip usus besar, juga terdapat perdarahan yang berlangsung perlahan dan menyebabkan darah samar pada feses.

    Dengan menemukan gejala kanker lebih awal melalui tes darah samar feses pada saat kanker masih berukuran kecil dan sebelum sel ganas bermetastasis ke organ jauh, pasien dapat diberikan terapi yang memadai. Dengan menghilangkan polip prakanker yang ditemukan melalui tes darah samar tinja, maka perkembangan kanker dapat dicegah.

    Tes Darah Samar

    Tes darah samar feses mendeteksi darah dalam tinja yang tidak terlihat pada pemeriksaan secara konvensional dan tidak terlihat oleh mata telanjang dibawah mikroskop. Feses biasanya mengandung kurang dari 50 mg hemoglobin per gram tinja, dimana pada orang dewasa normal umumnya menunjukkan kurang dari 2 sampai 3 mg /gr. Peningkatan jumlah ini dikaitkan dengan berbagai penyakit gastrointestinal jinak / ganas, terutama neoplasma kolon. Tes ini yang paling sering digunakan pada pasien skrining untuk lesi tersebut.

    Tes darah samar feses umumnya berasal dari perdarahan yang berlangsung perlahan, sering kali intermiten dari saluran gastrointestinal bagian atas atau bawah. Perdarahan yang perlahan tidak mengubah warna tinja atau menghasilkan darah merah terang yang terlihat mata. Oleh karena itu darah hanya ditemukan dengan melakukan pemeriksaan feses di laboratorium. Perdarahan secara perlahan ini memiliki banyak penyebab yang sama dengan bentuk pendarahan gastrointestinal yang berlangsung lebih cepat, seperti perdarahan rektum dimana tampak adanya darah merah atau adanya gumpalan darah secara merata dan melena dimana feses berwarna hitam akibat perdarahan dari usus bagian atas.

    Indikasi Pemeriksaan

    Adanya darah yang muncul dalam feses umumnya terjadi pada penyakit berikut :

    • Pertumbuhan jinak atau ganas (kanker) atau polip usus besar
    • Hemorrhoid yang bisa pecah dan menyebabkan pendarahan
    • Fisura ani
    • Infeksi usus yang menyebabkan radang
    • Ulkus
    • Kolitis ulseratif
    • Penyakit Crohn
    • Penyakit divertikular, disebabkan oleh gangguan pada dinding usus besar
    • Kelainan pada pembuluh darah di usus besar

    Apabila dicurigai penyakit tersebut pada pasien maka diperlukan pemeriksaan feses untuk menentukan apakah terdapat darah dalam feses.

    dr. purwanto 1

    Prosedur Pemeriksaan

    Test Benzidine yang banyak dikenal seperti misalnya Hematest, saat ini sudah jarang dipergunakan lagi. Hal ini disebabkan karena sensitivitasnya yang berlebihan, yang justru akan menghasilkan frekuensi reaksi positif palsu yang tinggi, serta adanya sifat karsinogenisitas reagen. Standar yang banyak dipergunakan saat ini adalah hemoccult slide test (Smith-Kline Diagnostics). Test ini berbasis guaiac di mana salah satu sisi kertas guaiac diolesi dengan tinja dan diuji dengan penambahan beberapa tetes larutan pengembang sejenis reagen peroksida stabil ke sisi berlawanan dari kertas.

    Dalam program skrining, pasien diminta mengambil sampel faeses dengan wadah khusus di toilet. Pemeriksaannya dilakukan dengan menggunakan aplikator kayu dengan cara mengoleskan sebagian kecil diatas kertas yang disediakan. Prosedur ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut, dan kertas sampel dikirim untuk pengujian, karena hanya ditemukan sedikit degradasi dari spesimen kering ini dalam penyimpanan selama1 minggu (kurang dari 15% sampel).

    Pada penentuan di laboratorium penetapan warna dalam 30 detik reaksi  dianggap sebagai tes positif; Warna lain yang timbul misalnya warna kehijauan dapat disebabkan oleh oksidasi bilirubin feses ke biliverdin sehingga tidak boleh dibaca sebagai positif. Dalam reagen pemeriksaan ditentukan kontrol positif dan negatif termasuk dalam kertas untuk memastikan reagen reaktif dengan substrat dan tidak reaktif tanpa adanya substrat.

    Hasil difusi hematin dari feses yang dioleskan ke dalam kertas itu diamati kemudian bagian kertas tersebut dibasahi dengan beberapa tetes air beberapa menit sebelum menambahkan reagen pengembang. Perlu diketahui bahwa rehidrasi spesimen tersebut juga meningkatkan tingkat reaksi positif palsu dari peroksidase sisa makanan yang berasal dari tanaman dan heme daging yang berada dalam makanan.

    Uji ketelitian dari tes darah samar feses umumnya dilakukan dengan menggunakan beberapa sampel feses yang dikumpulkan untuk pengujian. Alasan untuk menguji beberapa sampel adalah bahwa perdarahan dari kanker dan polip seringkali berselang beberapa hari dan hanya satu dari sampel yang mungkin menunjukkan adanya darah samar.

    Terdapat dua jenis tes darah samar dalam feses yaitu tes berdasarkan pengujian kimiawi dan secara  imunologis. Untuk pengujian berdasar kimiawi maka larutan yang mengandung bahan kimia guaiac dan menggunakan bahan kimia pengoksidasi. Jika terdapat darah dalam sampel tinja, pencampuran larutan dengan darah menyebabkan guaiac berubah menjadi biru. Warna biru disebabkan oleh interaksi  dari bagian heme dari molekul hemoglobin, molekul pembawa oksigen dalam sel darah merah, dan guaiac.

    Pengujian secara imunologi melalui pencampuran sampel tinja dengan larutan yang mengandung antibodi terhadap globin yang merupakan bagian protein dari molekul hemoglobin. Antibodi dikombinasikan dengan sejumlah kecil bahan emas. Bila antibodi / kompleks emas mengikat globin dalam tinja, maka kompleks antibodi dari emas dan globin akan mengendap dari larutan dan terlihat sebagai garis pada strip dari tes.

    Cara lain yaitu Uji imunokimia tinja (FIT), yang bisa dilakukan di manapun (POCT-Point of Care Testing) dengan menggunakan sikat untuk mengoleskan sampel feses ke dalam strip. Tes ini dapat dilakukan di rumah. Tidak ada batasan diet untuk obat atau makanan.

    Terdapat Tes DNA feses atau uji FIT-DNA yang merupakan pilihan lain untuk deteksi dini kanker kolon. Tes ini menunjukkan perubahan seluler yang bisa menunjukkan bahwa seseorang mungkin menderita kanker atau polip pra-kanker. Tes ini juga bisa mendeteksi darah dalam feses dengan baik. Tes dilakukan dengan menggunakan kit untuk mengumpulkan sampel feses dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dianalisis.  Namun tes ini masih dipelajari untuk melihat seberapa baik kerjanya untuk menemukan kanker kolorektal baik spesifitas dan sensitivitasnya.

    dr. purwanto 2

    Interpretasi Klinik

    Neoplasma kolon dan lesi gastrointestinal lainnya memberikan gejala atau tanda adanya perdarahan sementara dan dalam jumlah bervariasi dari hari ke hari. Oleh karena itu, jika salah satu dari enam pemeriksaan darah menghasilkan reaksi positif (warna biru) maka pasien harus menjalani uji diagnostik lebih intensif untuk menentukan sumber dari kehilangan darah. Di negara-negara Barat, skrining Hemoccult terhadap populasi asimtomatik yang berusia 45 tahun atau lebih telah menghasilkan tes positif 3 sampai 5 % pada diet tidak terbatas dan tes positif kurang dari 2% pada diet terbatas.

    Pasien yang menggunakan pra analitik diet yang dipersyaratkan untuk pengambilan sampel pemeriksaan, maka 10 – 15% dari mereka yang ditemukan tes positif akan memiliki kemungkinan menderita karsinoma dan 20 – 30% memiliki kemungkinan menderita neoplasma jinak  (misalnya polip) yang biasanya berada di usus besar. Sebanyak 30 – 60% subjek positif lainnya akan mengungkapkan adanya lesi gastrointestinal lainnya yang mungkin memberikan gejala tes darah samar positif (misalnya pada hemorrhoid, divertikulosis, penyakit radang usus, ulkus peptikum, gastritis, esofagitis, dan varises kerongkongan). Kurang dari 15%, subjek positif akan memberikan hasil tidak adanya lesi dan sebagian besar mungkin memiliki tes positif palsu karena peroksida nabati dari makanan.

    Enam puluh lima sampai 80% karsinoma kolorektal dan 20-40% adenoma kolon jinak terdeteksi oleh tes Hemoccult feses. Dengan demikian, salah satu hasil positif merupakan indikasi untuk keseluruhan pemeriksaan usus besar, termasuk enema barium dan enema udara ditambah sigmoidoskopi fleksibel (60 cm), atau kolonoskopi.

    Sebagian besar neoplasma kolorektal yang terdeteksi dengan skrining Hemoccult akan berupa adenoma jinak atau karsinoma stadium B1 di Duke, dengan kelangsungan hidup bertahan 80% atau lebih selama 5 tahun setelah reseksi. Sebaliknya, pada pasien dengan karsinoma simtomatik, proporsi pencapaian hidup selama 5 tahun kurang dari 40%. Perlu dicermati adanya bias dalam program skrining, dimana seseorang mungkin dapat terdiagnosis pada tahap awal penyakit ini tetap saja tidak dapat benar-benar menunda waktu kematian. Oleh karena itu sebelum terbukti bahwa skrining untuk kanker usus besar benar-benar meningkatkan kelangsungan hidup maka diperlukan studi prospektif jangka panjang dan acak, untuk menjawab pertanyaan penting ini.

    Penutup

    Kunci utama keberhasilan penanganan karsinoma kolorektal adalah mendeteksi karsinoma pada stadium dini, sehingga terapi dapat dilaksanakan secara bedah kuratif. Sayangnya, sebagian besar penderita di Indonesia datang dalam stadium lanjut sehingga angka harapan hidup rendah, terlepas dari terapi yang diberikan. Penderita datang ke rumah sakit sering dalam stadium lanjut karena tidak jelasnya gejala awal, tidak mengetahui serta tidak menganggap penting gejala dini yang terjadi.

    Pedoman Nasional Kanker Kolorektal yang diterbitkan oleh Depkes menyatakan bahwa skrining karsinoma kolorektal memegang peranan yang sangat penting. Dengan program yang baik akan lebih banyak ditemukan kasus dini. Skrining pada populasi harus dimulai sejak usia > 50 tahun. Deteksi dini pada populasi dengan risiko sedang dapat dilakukan dengan cara tes darah samar, sigmoidoskopi atau kolonoskopi dimulai saat individu berusia 50 tahun sampai 75 tahun.

    Inti sebenarnya untuk tes darah samar feses adalah berapa banyak kanker atau  prakanker yang dapat dideteksi dan berapa banyak kematian akibat kanker dapat dicegah dengan tes darah samar feses. Studi  dengan menggunakan tes darah samar feses telah menunjukkan setidaknya penurunan 15% -20% angka kematian akibat kanker usus besar. Studi serupa sekarang dilakukan dengan tes darah samar feses menggunakan metoda imunologik. Namun demikian, harapan dari kalangan medis (dan tentunya penderita), dengan berlandaskan berbagai hasil studi yang telah dan mungkin sedang berlangsung ini sangat diperlukan untuk menunjukkan bahwa tes darah samar penting dilakukan sesuai indikasi klinik.

    Daftar Pustaka

    1. Ahlquist DA. Next-generation stool DNA testing: expanding the scope. Gastroenterology, 2009;136:2068–73
    2. Allison JE, Sakoda LC, Levin TR, et al. Screening for colorectal neoplasms with new fecal occult blood tests: update on performance characteristics. J Natl Cancer Inst 2007;99:1462–70
    3. Carroll MR, Seaman HE, Halloran SP. Tests and investigations for colorectal cancer screening. Clin Biochem. 2014;47: 921–39.
    4. Davila RE, Rajan E, Baron TH, Standards of Practice Committee, American Society for Gastrointestinal Endoscopy ASGE guideline: colorectal cancer screening and surveillance. Gastrointest Endosc., 2006;63:546–57
    5. Fischbach FT. Stool Examination, In A of Laboratory and Diagnostic Test, Lippincott Philadelphia, New York, 1998, 5: 254-76

     

    *) SMF Laboratorium SMC RS Telogorejo Semarang

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply

Photostream

Translate »