Saat haid, nyeri seperti kram di bagian bawah perut merupakan kondisi normal, terutama pada hari pertama menstruasi. Namun, bagaimana jika rasa sakitnya begitu hebat sampai membuat Anda tidak bisa beraktivitas seperti biasa?
Kondisi tersebut patut diwaspadai. Menurut dr. R. Arie Sutanto, Sp. OG, Subsp. FER selaku Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dari SMC RS Telogorejo, nyeri haid yang berlebihan bisa menjadi satu tanda endometriosis.
Apa Itu Endometriosis?
Dalam dinding rahim, terdapat jaringan bernama endometrium yang normalnya akan menebal lalu luruh saat menstruasi. Endometriosis adalah kondisi ketika endometrium justru tumbuh di luar rahim, bisa di ovarium, tuba falopi, atau jaringan di sekitar panggul.
Namun, jaringan di luar rahim tersebut akan tetap “bergerak” seperti jaringan endometrium normal di dalam rahim. Artinya, ia tetap menebal setiap siklus menstruasi dan mencoba luruh. Karena berada di luar rahim, darah dan jaringan tersebut tidak mempunyai jalan keluar khusus dari tubuh. Akibatnya, muncullah nyeri hebat hingga peradangan.
Apa Bedanya Endometriosis dengan Nyeri Haid Biasa?
Karena sama-sama terjadi di area rahim, endometriosis kerap kali disamakan dengan nyeri haid biasa (dismenore primer). Padahal, kedua kondisi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Mari pahami perbedaannya agar Anda bisa mengenali gejala endometriosis dan mendapatkan penanganan medis jika perlu.
Intensitas rasa sakit
Intensitas nyeri haid biasa umumnya terasa ringan sampai sedang, dan masih bisa diatasi atau ditoleransi dengan obat pereda nyeri dan istirahat. Sedangkan pada endometriosis, dr. Arie menjelaskan bahwa rasa nyerinya cenderung lebih intens dan bahkan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada kasus yang lebih parah, penderitanya dapat mengalami nyeri hebat yang berlangsung selama berhari-hari dan semakin memburuk seiring berjalannya waktu.
Perubahan pola rasa sakit
Nyeri haid biasa cenderung mempunyai pola yang konsisten dari bulan ke bulan. Apabila sebelumnya hanya kram ringan, biasanya kram tersebut tidak akan tiba-tiba bertambah parah. Namun, tidak begitu halnya dengan endometriosis yang pola nyerinya semakin terasa berat dari waktu ke waktu. Awalnya, rasa sakitnya mungkin terasa seperti nyeri haid biasa, tapi lalu berkembang menjadi nyeri kronis yang terkadang bisa muncul di luar siklus menstruasi.
Waktu timbulnya rasa sakit
Pada umumnya, rasa nyeri akibat haid biasa hanya muncul menjelang atau saat hari-hari awal menstruasi, kemudian mereda setelahnya. Kondisi tersebut berbeda dari endometriosis yang rasa sakitnya juga bisa muncul saat buang air kecil, buang air besar, dan saat atau setelah berhubungan intim. Gejala ini muncul karena jaringan endometriosis bisa tumbuh di berbagai organ dalam area panggul.
Kejelasan penyebab nyeri bagian perut bawah
Lebih lanjut, dr. Arie menjelaskan bahwa nyeri akibat haid biasa dan endometriosis bisa dilihat dari penyebabnya. Nyeri haid biasa terjadi akibat kontraksi rahim saat meluruhkan lapisan endometrium. Penyebabnya relatif jelas dan bersifat fisiologis.
Sementara itu, nyeri pada endometriosis disebabkan oleh jaringan mirip endometrium yang tumbuh di luar rahim. Karena lokasinya tidak ideal, rasa nyeri pun akan terasa lebih kompleks, cenderung menyebar, dan sulit dipahami tanpa pemeriksaan medis lebih lanjut. Bahkan, terkadang rasa sakit tersebut bisa muncul kembali walaupun sudah diobati.
Efek jangka panjang
Nyeri haid biasa umumnya tidak memicu dampak jangka panjang pada kesehatan reproduksi. Di sisi lain, endometriosis yang terus dibiarkan bisa menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan kesuburan atau infertilitas.
Bisakah Endometriosis Diobati?
Kabar baiknya, endometriosis merupakan kondisi yang bisa dikontrol dan diobati. Tujuan utama pengobatan adalah untuk menghambat pertumbuhan jaringan endometriosis, mengurangi nyeri, dan menjaga kesuburan.
Berdasarkan penjelasan dr. Arie, pasien biasanya akan diresepkan obat pereda nyeri. Selain itu, pengobatan juga dilakukan melalui terapi hormon secara oral untuk mengontrol produksi hormon, sehingga dapat memperlambat pertumbuhan jaringan endometriosis. Apabila gejala tidak kunjung membaik dengan obat dan terapi hormon, dr. Arie merekomendasikan tindakan bedah sesuai kondisi pasien.
Nyeri saat haid memang umum terjadi. Namun, jika nyeri terasa sangat hebat, semakin parah, atau bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, bisa jadi itu adalah gejala endometriosis yang butuh penanganan medis lebih lanjut. Maka dari itu, jangan abaikan nyeri datang bulan yang parah dan berkelanjutan.
Segera konsultasikan kondisi Anda kepada dokter spesialis kandungan yang terpercaya. Anda bisa menjadwalkan konsultasi dan check-up dengan dr. R. Arie Sutanto, Sp. OG, Subsp. FER di SMC RS Telogorejo melalui aplikasi MySMC, yang tersedia di App Store dan Play Store. Opsi lainnya adalah dengan mengunjungi website resmi SMC RS Telogorejo untuk reservasi online!
video penjelasan lainnya: https://www.instagram.com/reel/DVcgE81Eosd/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==