Thumbnail
21 Agustus 2026

Mitos & Fakta tentang Skoliosis yang Perlu Anda Ketahui

Tanpa pengobatan yang tepat, skoliosis dapat memengaruhi postur tubuh, menimbulkan nyeri, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Sayangnya, masih banyak mitos yang beredar di masyarakat mengenai skoliosis, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara penanganannya. 

Menurut dr. Adi Satria Widjanarko, Sp.KFR selaku Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik SMC RS Telogorejo, memahami fakta medis di balik mitos tersebut dapat membantu pasien memperoleh penanganan yang tepat sejak dini. Yuk, simak mitos apa saja yang sering dipercaya dan bagaimana fakta sebenarnya di artikel berikut!

1. Penderita skoliosis wajib menggunakan korset

Anggapan bahwa semua penderita skoliosis wajib menggunakan korset merupakan mitos. Faktanya, penggunaan korset atau brace hanya direkomendasikan pada kondisi tertentu berdasarkan penyebab skoliosis, derajat kelengkungan tulang belakang, serta usia dan masa pertumbuhan pasien. 

Pada skoliosis ringan dengan kelengkungan kurang dari 20 derajat, pasien umumnya hanya memerlukan pemantauan berkala dan fisioterapi tanpa menggunakan brace. Pada skoliosis derajat sedang, yaitu sekitar 20-40 derajat, brace biasanya dianjurkan untuk mencegah kelengkungan bertambah parah, terutama pada anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan. 

Sementara itu, pada skoliosis berat dengan kelengkungan lebih dari 40-50 derajat, penggunaan brace umumnya sudah kurang efektif, sehingga dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi. Perlu dipahami bahwa fungsi utama brace bukan untuk meluruskan tulang belakang secara permanen, melainkan untuk menjaga agar kelengkungan tidak semakin bertambah selama proses pertumbuhan.

2. Postur duduk atau berdiri yang salah menyebabkan skoliosis

Banyak orang percaya bahwa kebiasaan duduk membungkuk atau berdiri dengan postur yang salah dapat menyebabkan skoliosis. Faktanya, postur tubuh yang buruk bukan merupakan penyebab langsung skoliosis struktural. 

Namun, kebiasaan duduk atau berdiri yang tidak ergonomis dapat memperburuk nyeri dan keluhan pada penderita skoliosis. Karenanya, menjaga postur tubuh yang baik tetap penting untuk mengurangi beban pada tulang belakang, meski tidak dapat menyembuhkan skoliosis.

3. Membawa tas berat memicu skoliosis

Mitos lain yang masih sering beredar adalah membawa tas berat dapat menyebabkan skoliosis. Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan adanya hubungan langsung antara membawa tas berat dan terbentuknya skoliosis struktural. 

Namun, membawa beban yang terlalu berat, terutama hanya pada satu sisi tubuh, dapat memicu nyeri punggung dan memperburuk skoliosis yang sudah ada. Karena itu, gunakan ransel dengan dua tali bahu dan batasi berat tas sekitar 10-15% dari berat badan agar beban tetap terdistribusi dengan baik.

4. Skoliosis hanya bisa dialami anak-anak

Anggapan bahwa skoliosis hanya dialami oleh anak-anak juga tidak benar. Skoliosis dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. 

Pada remaja, skoliosis paling sering muncul ketika terjadi percepatan pertumbuhan, sehingga sering kali pertama kali dikenali melalui bahu atau pinggang yang tampak tidak simetris. Sementara itu, pada orang dewasa, skoliosis dapat merupakan kelanjutan dari skoliosis yang sudah ada sejak masa remaja atau muncul akibat proses degeneratif, seperti kerusakan sendi dan diskus tulang belakang seiring bertambahnya usia.

5. Satu-satunya pengobatan skoliosis adalah operasi

Menganggap operasi sebagai satu-satunya pengobatan skoliosis merupakan mitos. Faktanya, sebagian besar kasus dapat ditangani tanpa operasi melalui observasi, penggunaan brace, fisioterapi, dan latihan khusus untuk mencegah kelengkungan bertambah parah serta memperbaiki fungsi tubuh. Operasi umumnya baru dipertimbangkan pada skoliosis berat, yaitu ketika kelengkungan terus memburuk atau mulai mengganggu fungsi organ dan aktivitas sehari-hari.

6. Aktivitas fisik akan memperparah skoliosis

Anggapan bahwa penderita skoliosis tidak boleh beraktivitas fisik merupakan mitos. Justru, olahraga dan peregangan yang tepat bisa memperkuat otot penyangga tulang belakang, memperbaiki postur, serta mengurangi nyeri. 

Latihan sederhana seperti dead hang, Cat-Cow, dan latihan pernapasan juga dapat membantu meningkatkan fleksibilitas tulang belakang sekaligus membuat pernapasan lebih lega pada beberapa penderita skoliosis. Namun, jenis dan intensitas latihan sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing serta mengikuti anjuran dokter atau fisioterapis.

Banyaknya mitos yang beredar tentang skoliosis kerap membuat penderita terlambat mendapatkan penanganan yang tepat. Padahal, dengan deteksi dini dan terapi yang tepat, perkembangan kelengkungan tulang belakang dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup tetap terjaga. Karenanya, jangan ragu untuk memeriksakan diri apabila terdapat tanda-tanda skoliosis pada diri Anda maupun keluarga.

Untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat, Anda dapat berkonsultasi dengan dr. Adi Satria Widjanarko, Sp.KFR, Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik di SMC RS Telogorejo. Jadwalkan konsultasi maupun medical check-up dengan mudah melalui website resmi SMC RS Telogorejo atau aplikasi MySMC App yang tersedia di iOS dan Android!