Cedera ACL dikenal sebagai salah satu jenis cedera lutut yang paling serius dan ditakuti, terutama oleh orang-orang yang gemar berolahraga. Kondisi ini dapat menyebabkan lutut kehilangan stabilitas, sehingga banyak orang menganggap diagnosis tersebut sebagai akhir dari segalanya. Namun, benarkah demikian? Apakah penderita cedera ACL tidak bisa kembali menjalani rutinitas secara optimal? Temukan jawaban dan penjelasan lengkapnya dalam ulasan berikut ini.
Apa Itu Cedera ACL?
Cedera ACL adalah cedera yang terjadi pada anterior cruciate ligament (ACL), salah satu ligamen dalam lutut yang menghubungkan tulang paha dan tulang kering. Fungsi utamanya adalah menjaga stabilitas lutut.
Bentuk cedera ini umumnya berupa robekan pada ligamen, baik sebagian (partial tear) atau total (complete tear), dan paling sering terjadi pada atlet olahraga. Selain itu, idols yang harus sering melakukan koreografi juga biasanya lebih rentan mengalami robekan ACL.
Jika ACL mengalami robekan, gejala pertama yang umumnya muncul adalah bunyi “pop” pada lutut saat cedera terjadi. Kemudian, lutut akan terasa sangat nyeri. Saat digunakan untuk berdiri atau berjalan, biasanya lutut terasa tidak stabil atau bahkan membengkak akibat pendarahan di dalam sendi.
Dengan lutut yang sulit berfungsi, mobilitas pun terbatas. Anda bisa kesulitan berjongkok, berjalan jauh, dan naik turun tangga. Lalu, pada orang yang aktif berolahraga, cedera ACL juga membatasi kemampuan berlatih untuk sementara waktu.
Penyebab Cedera ACL
Cedera pada ligamen lutut tentu tidak muncul begitu saja. Pada umumnya, kondisi ini terjadi akibat gerakan tiba-tiba dan berlebihan yang membebani sendi lutut. Berikut beberapa penyebab utama yang sering ditemukan pada pasien:
Benturan atau tendangan keras pada area lutut;
Berhenti atau mengubah arah secara mendadak;
Salah mendarat setelah melompat, misalnya lutut terlalu lurus saat menapak di tanah;
Gerakan memutar saat kaki menapak kuat di tanah;
Meregangkan lutut secara berlebihan;
Selain itu, ada pula beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena cedera ACL, yaitu:
Profesi sebagai atlet, seperti atlet sepak bola, bulu tangkis, atau basket;
Berolahraga di permukaan yang keras dan licin;
Memakai alas kaki yang ukurannya tidak sesuai;
Kondisi otot paha dan inti tubuh (core) yang kurang kuat atau tidak seimbang;
Jenis kelamin perempuan, disebabkan oleh kombinasi faktor hormonal, anatomi, dan kekuatan otot.
Apakah Cedera ACL Harus Selalu Dioperasi?
Tidak semua penderita cedera ACL harus operasi untuk memulihkan kondisinya. Tindakan operasi biasanya dilakukan pada ACL yang robek total. Sedangkan untuk tingkat cedera yang ringan, biasanya dokter akan menyarankan latihan pemulihan sederhana secara rutin. Seperti ini gerakan yang bisa dilakukan:
Duduklah di atas permukaan datar dengan posisi kaki selonjor lurus ke depan.
Letakkan handuk atau kedua tangan di bawah masing-masing lutut, lalu tekan lutut ke bawah, tahan selama 5 detik, dan lepaskan. Ulangi selama beberapa kali;
Untuk gerakan kedua, rebahkan tubuh di atas permukaan yang sama hingga posisi kepala da lutut sejajar;
Dalam posisi tetap lurus, angkat kaki yang terkena cedera ACL setinggi mungkin semampu Anda, lalu turunkan pelan-pelan. Angkat dan turunkan kaki kembali sebanyak 12 kali hitungan, kemudian ulangi 3 kali.
Penting untuk diingat bahwa pemulihan ACL tidak seperti lari sprint yang cepat, melainkan lebih mirip maraton yang pelan tapi pasti. Supaya hasilnya optimal, Anda juga disarankan untuk istirahat sementara dari berbagai aktivitas yang membebani lutut.
Kapan Cedera ACL Perlu Operasi?
Umumnya, operasi direkomendasikan bagi penderita cedera ACL dengan tingkat keparahan derajat 2 atau tiga, yakni saat ACL mengalami robek sebagian atau total. Untuk menilai kondisi lutut dan tingkat kerusakan ligamen secara lebih akurat, biasanya dokter ortopedi akan melakukan pemeriksaan X-ray atau MRI.
Pada tindakan bedah ligamen nanti, dokter akan mengganti ACL yang rusak dengan tendon, yakni jaringan menyerupai ligamen yang menghubungkan tulang dan otot. Untuk kebutuhan operasi ACL, tendon ini umumnya diambil dari otot lutut atau otot hamstring pasien. Setelah operasi, pasien masih harus rutin menjalani fisioterapi, kontrol dokter secara berkala, serta menghindari olahraga intens maupun aktivitas berat.
Cedera ACL memang termasuk kondisi gangguan lutut yang serius, tapi bukan berarti akhir dari segalanya. Dengan diagnosis akurat, penanganan tepat, dan program rehabilitasi yang konsisten, banyak penderita cedera ligamen bisa kembali pulih.
Maka dari itu, jangan abaikan gejala seperti nyeri hebat pada lutut, terasa tidak stabil, atau bengkak setelah cedera. Segera konsultasikan kepada tim dokter spesialis ortopedi dan fisioterapis di SMC RS Telogorejo. Jadwalkan janji temu melalui website resmi kami atau aplikasi MySMC, yang bisa Anda unduh dari App Store maupun Play Store.