Banyak pasangan yang menjalani program bayi tabung (IVF) mengaku merasa cemas menjelang proses transfer embrio beku ke dalam rahim karena mengira prosesnya akan terasa menyakitkan. Namun, benarkah prosedur tersebut sesakit yang dibayangkan?
Dr. dr. Vannya Dewi Puspitasari, Sp. OG, Subsp. FER selaku Spesialis Andrologi dan dr. Andrian, Sp.And selaku Embriolog dari SMC RS Telogorejo membantah anggapan tersebut. Agar tidak lagi dihantui rasa takut, mari ikuti penjelasan lengkap tentang proses transfer embrio beku bersama tim ahli SMC RS Telogorejo!
Pencairan embrio
Sebelum dibekukan, embrio berada dalam kondisi mengembang sepenuhnya. Saat proses pembekuan berlangsung, embrio tersebut akan mengempis. Proses pencairan embrio akan membuat embrio kembali mengembang secara perlahan. Lebih lanjut, dr. Andrian menjelaskan bahwa tim embriologi umumnya memberi waktu sekitar 3–4 jam bagi embrio untuk “beradaptasi” sebelum dilakukan evaluasi pertama.
Pengamatan kondisi embrio
Proses evaluasi atau pengamatan bertujuan untuk mengetahui kondisi embrio sebelum dimasukkan ke rahim. Menurut penjelasan dr. Andrian, tanda utama embrio dapat dinyatakan hidup dan layak ditransfer adalah kemampuannya untuk kembali berkembang setelah dicairkan. Hal ini bisa diketahui apabila embrio sudah menetas keluar dari cangkangnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa embrio masih hidup dan siap ditransfer ke rahim.
Pengecekan kondisi rahim ibu
Prosedur transfer embrio dilanjutkan dengan mengecek kesiapan “rumah” yang akan ditempati, yakni rahim sang ibu. Pada tahap ini, dr. Vannya menjelaskan bahwa dokter akan mempersiapkan alat medis, lalu membersihkan area kewanitaan ibu untuk menjaga sterilitas. Setelah itu, kondisi rahim diperiksa menggunakan USG untuk memastikan visualisasinya jelas dan sudah siap menerima embrio.
Begitu kondisi dalam rahim tervisualisasi dengan baik, dokter akan segera mengabari tim embriologi melalui interkom bahwa pasien siap menerima transfer embrio. Dengan begini, tim embriologi bisa segera menyerahkan embrio untuk proses transfer.
Komunikasi kepada pasien
Sebelum memulai tindakan, tim dokter terlebih dulu memastikan kembali detail embrio yang akan ditransfer, seperti apa kondisinya, jumlah, dan tingkat perkembangannya. Semua informasi tersebut disampaikan kepada pasien. Tahapan ini krusial agar pasien memahami betul apa yang akan terjadi, sekaligus memberi kesempatan bagi pasien untuk bertanya sebelum prosedur transfer embrio berlangsung.
Timeout sebelum operasi
Setelah berkomunikasi kepada pasien, tim dokter tidak langsung melakukan tindakan begitu saja. Masih ada prosedur bernama timeout, yakni dokter operator mengumumkan secara lisan bahwa tindakan transfer embrio akan dilakukan. Selain itu, dokter juga akan memastikan identitas pasien sudah sesuai dan menanyakan kepada tim apakah ada kendala yang perlu didiskusikan. Setelah seluruh pihak medis terkait menyatakan siap, dokter operator akan memimpin doa bersama agar prosedur berjalan lancar.
Pemindahan embrio dari petri dish ke kateter
Begitu time out selesai, tim laboratorium akan menempatkan embrio yang telah dicairkan ke dalam satu petri dish yang sama, lalu diamati langsung di bawah mikroskop untuk mengecek kondisi asli sebelum dimasukkan ke rahim.
Setelah mendapat pernyataan siap dari pasien, dr. Andrian, selaku ahli embriologi, mulai memasukkan embrio ke dalam kateter dengan cara menyedotnya perlahan-lahan. Keseluruhan proses dilakukan dengan tangan yang mengenakan sarung tangan steril supaya embrio tetap bebas dari kontaminasi.
Memasukkan kateter ke rahim
Bisa dibilang, inilah momen puncak dari keseluruhan prosedur transfer embrio. Setelah embrio siap di dalam kateter, embriolog akan membawanya langsung ke tempat pasien. Kateter lalu diserahkan kepada dokter kandungan, yang akan memasukkannya ke dalam rahim dengan pemantauan USG secara real-time, sehingga pergerakan kateter berada di posisi tepat.
Begitu kateter mencapai posisi yang seharusnya, embrio pun dilepas masuk ke rahim ibu. Prosesnya hanya berlangsung selama beberapa menit dan minim rasa sakit. Setelah embrio dinyatakan masuk, dokter akan menyembur dan menyedot kateter berulang kali supaya tidak ada embrio yang tertinggal.
Rawat inap untuk ibu hamil
Walaupun prosedurnya relatif singkat, pasien tetap dianjurkan menjalani rawat inap semalam di rumah sakit setelah menjalani transfer embrio beku. Dengan begini, pasien bisa mendapat pemantauan langsung dari dokter selama masa awal pasca-transfer yang krusial bagi proses bayi tabung.
Berdasarkan rangkaian proses di atas, terlihat jelas bahwa proses transfer embrio beku untuk bayi tabung ternyata tidak sesulit anggapan banyak orang. Terlebih, prosedur tersebut didukung oleh tim dokter berpengalaman, laboratorium embriologi modern, dan teknologi canggih di SMC RS Telogorejo.
Jika Anda sedang merencanakan program bayi tabung, jangan ragu berkonsultasi langsung dengan tim fertilitas SMC RS Telogorejo. Jadwalkan konsultasi dan checkup bersama Dr. dr. Vannya Dewi Puspitasari, Sp. OG, Subsp. FER dan dr. Andrian, Sp.And di SMC RS Telogorejo melalui website atau aplikasi MySMC di App Store serta Play Store.