Screening kesehatan merupakan langkah penting bagi pasangan suami istri yang hendak menjalani program kehamilan melalui inseminasi buatan. Pemeriksaan ini membantu memastikan inseminasi adalah metode yang tepat, sekaligus mendeteksi potensi penyebab infertilitas pada pria maupun wanita. Selain itu, skrining juga dilakukan untuk mengevaluasi kualitas sperma dan sel telur, mencegah komplikasi seperti infeksi atau OHSS, serta meningkatkan peluang keberhasilan prosedur dengan memastikan kondisi tubuh benar-benar siap.
Menurut dr. Andrian, Sp.And. dari SMC RS Telogorejo, terdapat sejumlah pemeriksaan dasar yang idealnya dilakukan sebelum memulai program inseminasi. Berikut penjelasan lengkapnya.
Pemeriksaan Wajib Pra-Inseminasi Buatan
1. Anti HIV
Pemeriksaan Anti-HIV (HIV Antibody Test) merupakan salah satu tes wajib yang dilakukan sebelum inseminasi buatan untuk memastikan keamanan pasien dan mencegah risiko penularan virus selama proses reproduksi. Tes ini diawali dengan pengambilan sampel darah dari wanita, pria, atau donor sperma. Sampel kemudian diperiksa menggunakan metode ELISA atau rapid test untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi HIV dalam tubuh.
Hasil tes membantu mengidentifikasi apakah seseorang positif atau negatif terhadap antibodi HIV. Manfaatnya sangat penting, yaitu melindungi pasien wanita dari potensi paparan HIV melalui sperma, mencegah penularan dari ibu ke janin, serta menjaga keamanan tenaga medis selama prosedur. Pemeriksaan ini juga memberi kesempatan bagi pasangan untuk merencanakan program kehamilan yang aman apabila ditemukan hasil positif.
2. Anti HCV
Pemeriksaan Anti-HCV dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap virus Hepatitis C, infeksi yang bisa menular melalui darah dan berpengaruh pada kesehatan ibu maupun bayi. Tes dilakukan melalui pengambilan sampel darah dan dianalisis menggunakan metode EIA atau rapid test. Bila hasil awal menunjukkan reaktif, pemeriksaan lanjutan berupa HCV RNA diperlukan untuk memastikan apakah infeksi yang terjadi bersifat aktif.
Pentingnya pemeriksaan ini terletak pada kemampuannya mencegah penularan virus dari pasangan atau donor kepada wanita dan janin. Selain itu, deteksi dini Hepatitis C membantu mencegah komplikasi jangka panjang seperti sirosis atau kanker hati. Dengan mengetahui kondisi ini lebih awal, proses inseminasi dapat dilakukan dengan lebih aman dan terkontrol.
3. HBsAg
Tes HBsAg bertujuan mengetahui apakah seseorang memiliki infeksi Hepatitis B aktif yang bisa menular kepada pasangan atau bayi. Pemeriksaannya tidak memerlukan puasa. Petugas medis hanya perlu mengambil sampel darah melalui pembuluh vena, kemudian sampel dianalisis menggunakan metode EIA atau CLIA untuk mendeteksi antigen virus Hepatitis B.
Hasil positif menunjukkan kemungkinan adanya infeksi aktif, sementara hasil negatif menandakan bahwa pasien tidak sedang terinfeksi. Pemeriksaan HBsAg bermanfaat untuk mencegah penularan Hepatitis B, melindungi kesehatan ibu, dan menghindari komplikasi selama kehamilan. Bagi tenaga medis, hasil tes ini juga membantu menentukan langkah lanjutan, misalnya memberi vaksinasi atau menunda prosedur inseminasi bila diperlukan.
4. TPHA
Pemeriksaan TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay) dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri penyebab sifilis. Penyakit ini bisa mengganggu kesuburan dan menimbulkan risiko besar bagi kehamilan. Prosedurnya meliputi pengambilan sampel darah, yang kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah antibodi Treponema pallidum terdeteksi atau tidak.
Hasil dinyatakan reaktif bila antibodi terdeteksi, dan non-reaktif bila tidak ditemukan. Manfaat TPHA sangat signifikan karena mencegah penularan sifilis ke pasangan, melindungi janin dari risiko sifilis kongenital, serta menghindari potensi kegagalan inseminasi akibat infeksi yang tidak terdeteksi. Dengan mengetahui kondisi ini sejak awal, pasangan dapat menjalani perawatan terlebih dahulu sebelum melanjutkan program inseminasi.
5. Analisis sperma
Analisis sperma merupakan pemeriksaan kunci untuk menilai faktor kesuburan pria yang memiliki peran besar dalam keberhasilan inseminasi buatan. Pemeriksaan ini diawali dengan persiapan seperti pantang ejakulasi selama 3-5 hari, menghindari alkohol, rokok, kafein, serta menjaga kualitas tidur dan stres. Sampel sperma dikumpulkan melalui masturbasi di ruang khusus menggunakan wadah steril, atau melalui prosedur aspirasi bila terdapat sumbatan.
Sampel kemudian dianalisis untuk menilai berbagai parameter, termasuk volume semen, konsentrasi sperma, motilitas (pergerakan), morfologi (bentuk), serta karakteristik fisik lainnya seperti warna, pH, dan kekentalan. Pemeriksaan ini memberikan gambaran lengkap mengenai kesuburan pria, membantu mengidentifikasi kelainan seperti oligospermia atau motilitas rendah, serta memungkinkan pemilihan sperma terbaik untuk prosedur inseminasi.
Screening pra–inseminasi buatan memastikan tubuh berada dalam kondisi optimal, aman, dan siap untuk menjalani program kehamilan. Jika Anda ingin melakukan seluruh pemeriksaan ini secara terarah dan akurat, layanan fertilitas di SMC RS Telogorejo dapat menjadi pilihan, karena dilengkapi teknologi terkini dan tenaga ahli profesional.
Untuk melakukan reservasi pemeriksaan dengan dr. Andrian, Sp.And., Anda bisa mengakses website SMC atau melalui aplikasi MySMC yang tersedia di iOS dan Android. Semoga program hamil Anda berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik!