Thumbnail
09 Maret 2026

CT Scan vs MRI: Mana yang Terbaik untuk Periksa Epilepsi?

Banyak masyarakat masih bingung apakah pemeriksaan epilepsi memerlukan CT Scan atau MRI. Sebenarnya, tidak semua kasus epilepsi membutuhkan pencitraan otak. Pemeriksaan utama adalah EEG yang merekam aktivitas listrik otak untuk mendeteksi pola kejang. CT Scan atau MRI baru dilakukan bila dokter mencurigai adanya kelainan struktural, seperti tumor, perdarahan, jaringan parut, atau malformasi.

Di antara keduanya, MRI lebih unggul karena mampu menampilkan detail jaringan otak dengan lebih jelas, terutama untuk epilepsi fokal. Menurut Prof. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D., Sp.BS(K), pemilihan pemeriksaan disesuaikan dengan gejala pasien, dugaan penyebab kejang, dan perencanaan terapi. Berikut penjelasan lengkap mengenai berbagai pemeriksaan untuk evaluasi epilepsi!

Hal yang Diperlukan untuk Pemeriksaan Epilepsi

1. EEG

EEG adalah pemeriksaan utama untuk mendiagnosis epilepsi. Elektroda ditempel di kulit kepala untuk merekam gelombang otak. Dari rekaman ini, dokter bisa melihat lonjakan aktivitas listrik yang menunjukkan epilepsi, serta mengetahui apakah kejang berasal dari fokus tertentu.

Meski penting, EEG memiliki keterbatasan. Pemeriksaan ini tidak selalu menunjukkan lokasi kelainan secara tepat, dan tidak bisa memperlihatkan kelainan struktural. Dalam beberapa kasus, pola abnormal hanya muncul dalam kondisi tertentu sehingga dokter bisa menambahkan video EEG untuk merekam kejang secara langsung atau EEG tidur agar aktivitas epileptiform lebih mudah terekam. EEG biasanya dikombinasikan dengan MRI atau CT Scan untuk mendapatkan gambaran otak yang lebih lengkap.

2. MRI

MRI menjadi pemeriksaan pencitraan paling penting untuk epilepsi, khususnya jika dicurigai adanya kelainan fokal. MRI mampu mendeteksi lesi kecil atau jaringan parut yang tidak terlihat pada CT Scan. Fokus pemeriksaan biasanya pada lobus temporal dan hipokampus, area yang sering menjadi sumber kejang.

Dalam MRI epilepsi digunakan sekuens khusus yang menampilkan hipokampus dan korteks dengan detail tinggi. Dokter bisa mendeteksi sklerosis hipokampal, malformasi kortikal, tumor kecil, jaringan parut pasca-trauma, lesi akibat stroke, atau kavernoma. Hasil MRI sangat penting untuk menentukan langkah pengobatan, termasuk evaluasi kandidat operasi epilepsi, serta membedakan epilepsi dari gangguan neurologis lain yang mirip gejalanya.

Mengapa CT Scan Tidak Digunakan dalam Diagnosis Epilepsi?

Meskipun CT Scan sering digunakan pada kondisi neurologis tertentu, pemeriksaan ini bukan modalitas utama untuk mendiagnosis epilepsi. Alasan utamanya adalah CT Scan memiliki sensitivitas rendah terhadap kelainan jaringan otak lunak. Lesi kecil seperti malformasi kortikal atau jaringan parut sering tidak tampak pada pencitraan CT Scan sehingga kurang cocok digunakan untuk mencari penyebab epilepsi yang halus atau tersembunyi.

Namun, CT Scan tetap memiliki peran penting dalam situasi tertentu. Pemeriksaan ini sangat berguna pada kondisi darurat, seperti trauma kepala atau dugaan perdarahan akut, karena proses pemindaiannya cepat. CT Scan juga membantu menyingkirkan kelainan besar seperti tumor yang tampak jelas dan bisa menjadi alternatif sementara saat MRI tidak tersedia atau pasien tidak bisa menjalani MRI.

Protokol Khusus untuk Pemeriksaan Epilepsi dengan MRI

MRI untuk evaluasi epilepsi memiliki protokol khusus yang berbeda dari MRI standar karena membutuhkan tingkat detail yang jauh lebih tinggi. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan dengan mesin minimal 1.5 Tesla, dan idealnya menggunakan 3 Tesla agar gambarnya lebih tajam. Durasi pemindaian biasanya berlangsung antara 20 hingga 40 menit, dan dalam beberapa kasus bisa ditambahkan kontras sesuai kebutuhan klinis.

Selama pemindaian, digunakan berbagai sekuens khusus untuk menangkap informasi yang berbeda. T1-weighted membantu melihat struktur anatomi dasar, sementara T2-weighted dan FLAIR digunakan untuk mendeteksi lesi pada jaringan otak. DWI bermanfaat untuk mencari lesi akut seperti stroke, sedangkan GRE atau SWI membantu mendeteksi perdarahan mikro atau kalsifikasi. Selain itu, ada pula sekuens beresolusi tinggi khusus hipokampus untuk mencari tanda mesial temporal sclerosis, salah satu penyebab epilepsi yang paling sering.

Sebelum menjalani MRI, pasien diminta melepas semua benda logam dan berbaring diam selama proses pemindaian. Jika dibutuhkan penggunaan kontras, dokter akan melakukan skrining fungsi ginjal terlebih dahulu untuk memastikan keamanan.

Selama analisis, radiolog akan memeriksa berbagai kemungkinan kelainan, termasuk mesial temporal sclerosis, malformasi kortikal, tumor kecil, jaringan parut atau gliosis, serta perdarahan mikro. Dengan pendekatan khusus ini, MRI epilepsi mampu mengungkap penyebab kejang yang biasanya tidak terlihat pada pemeriksaan pencitraan biasa.

Jika Anda membutuhkan pemeriksaan epilepsi dengan teknologi pencitraan paling akurat seperti MRI protokol epilepsi atau konsultasi neurologi, Anda bisa mengunjungi SMC RS Telogorejo yang dilengkapi fasilitas terkini. Untuk reservasi pemeriksaan dengan Prof. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D., Sp.BS(K), kunjungi website atau aplikasi MySMC yang tersedia di iOS dan Android sekarang!