Oleh : dr. Dutha Patria Huthama, Sp. BA, FIAPS
Mengenali Kriteria Rome IV, Tanda Bahaya, dan Risiko Sembelit
“Dok, anak saya sudah seminggu belum BAB.”
Kalimat ini adalah salah satu keluhan yang paling sering terdengar di praktik dokter. Sembelit pada anak memang umum terjadi, tetapi tidak berarti selalu aman untuk diabaikan. Di balik keluhan yang tampak sederhana, sembelit dapat menimbulkan masalah serius jika berlangsung lama dan tidak ditangani dengan tepat—salah satunya adalah megakolon.
Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mudah dipahami mengenai sembelit pada anak, kriteria diagnosis menurut Rome IV, tanda-tanda waspada yang tidak boleh diabaikan, serta komplikasi penting berupa megakolon.
Apa Itu Sembelit pada Anak?
Sembelit (konstipasi) pada anak adalah gangguan buang air besar (BAB) yang ditandai oleh:
Frekuensi BAB yang jarang
Konsistensi tinja keras atau besar
BAB yang terasa nyeri atau sulit
Kebiasaan menahan BAB
Pada anak, sembelit tidak hanya masalah saluran cerna, tetapi juga masalah perilaku dan kebiasaan. Anak sering menahan BAB karena takut sakit, malu ke toilet sekolah, atau pernah mengalami pengalaman BAB yang menyakitkan sebelumnya. Penahanan ini justru memperparah sembelit dan menciptakan lingkaran setan.
Mengapa Sembelit pada Anak Perlu Diperhatikan?
Jika tidak ditangani dengan baik, sembelit kronis dapat menyebabkan:
Nyeri perut berulang
Penurunan nafsu makan
Feses menumpuk di usus besar
Inkontinensia feses (BAB tidak disadari)
Gangguan psikologis dan kepercayaan diri anak
Pelebaran usus besar (megakolon)
Oleh karena itu, diagnosis yang tepat sejak dini sangat penting.
Kriteria Rome IV: Standar Diagnosis Sembelit Fungsional
Sebagian besar sembelit pada anak bersifat fungsional, artinya tidak disebabkan oleh kelainan organik. Untuk menegakkan diagnosis ini, digunakan Kriteria Rome IV.
Anak Usia di Bawah 4 Tahun
Diagnosis sembelit fungsional ditegakkan bila selama minimal 1 bulan terdapat ≥ 2 dari kriteria berikut:
BAB ≤ 2 kali per minggu
Riwayat retensi tinja berlebihan (menahan BAB)
Riwayat BAB nyeri atau tinja keras
Riwayat tinja berukuran besar
Massa tinja besar teraba di rektum
Pada anak yang sudah toilet trained, dapat disertai:
Inkontinensia feses ≥ 1 kali per minggu
Riwayat tinja besar yang dapat menyumbat toilet
Anak Usia 4 Tahun ke Atas
Kriteria hampir sama, dengan durasi minimal 1 bulan dan tidak memenuhi kriteria irritable bowel syndrome (IBS).
👉 Penting: Tidak semua anak dengan BAB jarang otomatis mengalami sembelit. Diagnosis harus melihat keseluruhan gejala, bukan hanya frekuensi BAB.
Tanda Waspada: Kapan Harus Curiga Ada Masalah Serius?
Meskipun sebagian besar sembelit bersifat fungsional, ada kondisi tertentu yang menjadi alarm bahaya. Tanda-tanda berikut tidak boleh diabaikan:
Sembelit sejak lahir atau sejak usia < 1 bulan
Mekonium keluar lebih dari 48 jam setelah lahir
Perut sangat kembung dan membesar
Muntah berulang, terutama muntah hijau
Berat badan sulit naik atau gagal tumbuh
Tinja berdarah tanpa adanya luka di anus
Demam, lesu, atau tampak sakit berat
Kelainan neurologis (refleks anus abnormal, kelemahan tungkai)
Kelainan anus (posisi tidak normal, stenosis)
Tidak membaik dengan terapi sembelit standar
Bila satu atau lebih tanda ini ditemukan, anak harus segera dievaluasi lebih lanjut oleh tenaga medis.
Megakolon: Komplikasi yang Sering Terlambat Disadari
Apa Itu Megakolon?
Megakolon adalah kondisi di mana usus besar melebar secara abnormal akibat penumpukan tinja yang berlangsung lama atau gangguan sistem saraf usus.
Pada anak dengan sembelit kronis, tinja yang terus menumpuk menyebabkan dinding usus meregang. Lama-kelamaan, kemampuan usus untuk berkontraksi menurun, sehingga anak semakin sulit BAB.
Jenis Megakolon pada Anak
1. Megakolon Fungsional
Paling sering ditemukan
Akibat sembelit kronis yang tidak tertangani
Usus melebar tetapi tidak ada kelainan struktur
Umumnya dapat membaik dengan terapi medis jangka panjang dan perubahan perilaku
2. Megakolon Organik
Contoh terpenting adalah penyakit Hirschsprung:
Disebabkan tidak adanya sel ganglion pada segmen usus
Menyebabkan usus tidak dapat berelaksasi
Gejala muncul sejak bayi baru lahir
Membutuhkan tindakan bedah
Gejala Megakolon
BAB sangat jarang dengan tinja sangat besar
Perut membuncit kronis
Nyeri perut dan kembung
BAB keluar tanpa disadari (overflow incontinence)
Nafsu makan menurun
Berat badan sulit naik
Bagaimana Megakolon Didiagnosis?
Pemeriksaan dapat meliputi:
Foto polos abdomen
Enema kontras
Biopsi rektum (bila dicurigai Hirschsprung)
Prinsip Penanganan Sembelit Anak
Penanganan sembelit bukan terapi instan, tetapi proses jangka panjang yang memerlukan kerja sama anak, orang tua, dan Dokter.
Prinsip Utama:
Mengeluarkan tinja yang tertahan
Mencegah penumpukan ulang
Membentuk kebiasaan BAB yang sehat
Pendekatan meliputi:
Edukasi keluarga
Pola makan tinggi serat dan cukup cairan
Toilet training terjadwal
Terapi laksatif sesuai indikasi medis
Monitoring jangka panjang
Penutup: Sembelit Bukan Masalah Sepele
Sembelit pada anak bukan sekadar soal jarang BAB. Dengan memahami kriteria Rome IV, mengenali tanda waspada, dan mewaspadai komplikasi seperti megakolon, orang tua dan tenaga kesehatan dapat mencegah dampak jangka panjang yang merugikan anak.
Penanganan yang tepat sejak dini akan membantu anak tumbuh sehat, nyaman, dan percaya diri.