Thumbnail
22 Desember 2025

Anak Jarang BAB? Hati-Hati, Bukan Sekadar Sembelit Biasa!

Oleh : dr. Dutha Patria Huthama, Sp. BA, FIAPS

Mengenali Kriteria Rome IV, Tanda Bahaya, dan Risiko Sembelit

“Dok, anak saya sudah seminggu belum BAB.”
Kalimat ini adalah salah satu keluhan yang paling sering terdengar di praktik dokter. Sembelit pada anak memang umum terjadi, tetapi tidak berarti selalu aman untuk diabaikan. Di balik keluhan yang tampak sederhana, sembelit dapat menimbulkan masalah serius jika berlangsung lama dan tidak ditangani dengan tepat—salah satunya adalah megakolon.

Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mudah dipahami mengenai sembelit pada anak, kriteria diagnosis menurut Rome IV, tanda-tanda waspada yang tidak boleh diabaikan, serta komplikasi penting berupa megakolon.


Apa Itu Sembelit pada Anak?

Sembelit (konstipasi) pada anak adalah gangguan buang air besar (BAB) yang ditandai oleh:

  • Frekuensi BAB yang jarang

  • Konsistensi tinja keras atau besar

  • BAB yang terasa nyeri atau sulit

  • Kebiasaan menahan BAB

Pada anak, sembelit tidak hanya masalah saluran cerna, tetapi juga masalah perilaku dan kebiasaan. Anak sering menahan BAB karena takut sakit, malu ke toilet sekolah, atau pernah mengalami pengalaman BAB yang menyakitkan sebelumnya. Penahanan ini justru memperparah sembelit dan menciptakan lingkaran setan.


Mengapa Sembelit pada Anak Perlu Diperhatikan?

Jika tidak ditangani dengan baik, sembelit kronis dapat menyebabkan:

  • Nyeri perut berulang

  • Penurunan nafsu makan

  • Feses menumpuk di usus besar

  • Inkontinensia feses (BAB tidak disadari)

  • Gangguan psikologis dan kepercayaan diri anak

  • Pelebaran usus besar (megakolon)

Oleh karena itu, diagnosis yang tepat sejak dini sangat penting.


Kriteria Rome IV: Standar Diagnosis Sembelit Fungsional

Sebagian besar sembelit pada anak bersifat fungsional, artinya tidak disebabkan oleh kelainan organik. Untuk menegakkan diagnosis ini, digunakan Kriteria Rome IV.

Anak Usia di Bawah 4 Tahun

Diagnosis sembelit fungsional ditegakkan bila selama minimal 1 bulan terdapat ≥ 2 dari kriteria berikut:

  1. BAB ≤ 2 kali per minggu

  2. Riwayat retensi tinja berlebihan (menahan BAB)

  3. Riwayat BAB nyeri atau tinja keras

  4. Riwayat tinja berukuran besar

  5. Massa tinja besar teraba di rektum

Pada anak yang sudah toilet trained, dapat disertai:

  • Inkontinensia feses ≥ 1 kali per minggu

  • Riwayat tinja besar yang dapat menyumbat toilet

Anak Usia 4 Tahun ke Atas

Kriteria hampir sama, dengan durasi minimal 1 bulan dan tidak memenuhi kriteria irritable bowel syndrome (IBS).

👉 Penting: Tidak semua anak dengan BAB jarang otomatis mengalami sembelit. Diagnosis harus melihat keseluruhan gejala, bukan hanya frekuensi BAB.


Tanda Waspada: Kapan Harus Curiga Ada Masalah Serius?

Meskipun sebagian besar sembelit bersifat fungsional, ada kondisi tertentu yang menjadi alarm bahaya. Tanda-tanda berikut tidak boleh diabaikan:

  • Sembelit sejak lahir atau sejak usia < 1 bulan

  • Mekonium keluar lebih dari 48 jam setelah lahir

  • Perut sangat kembung dan membesar

  • Muntah berulang, terutama muntah hijau

  • Berat badan sulit naik atau gagal tumbuh

  • Tinja berdarah tanpa adanya luka di anus

  • Demam, lesu, atau tampak sakit berat

  • Kelainan neurologis (refleks anus abnormal, kelemahan tungkai)

  • Kelainan anus (posisi tidak normal, stenosis)

  • Tidak membaik dengan terapi sembelit standar

Bila satu atau lebih tanda ini ditemukan, anak harus segera dievaluasi lebih lanjut oleh tenaga medis.


Megakolon: Komplikasi yang Sering Terlambat Disadari

Apa Itu Megakolon?

Megakolon adalah kondisi di mana usus besar melebar secara abnormal akibat penumpukan tinja yang berlangsung lama atau gangguan sistem saraf usus.

Pada anak dengan sembelit kronis, tinja yang terus menumpuk menyebabkan dinding usus meregang. Lama-kelamaan, kemampuan usus untuk berkontraksi menurun, sehingga anak semakin sulit BAB.


Jenis Megakolon pada Anak

1. Megakolon Fungsional

  • Paling sering ditemukan

  • Akibat sembelit kronis yang tidak tertangani

  • Usus melebar tetapi tidak ada kelainan struktur

  • Umumnya dapat membaik dengan terapi medis jangka panjang dan perubahan perilaku

2. Megakolon Organik

Contoh terpenting adalah penyakit Hirschsprung:

  • Disebabkan tidak adanya sel ganglion pada segmen usus

  • Menyebabkan usus tidak dapat berelaksasi

  • Gejala muncul sejak bayi baru lahir

  • Membutuhkan tindakan bedah


Gejala Megakolon

  • BAB sangat jarang dengan tinja sangat besar

  • Perut membuncit kronis

  • Nyeri perut dan kembung

  • BAB keluar tanpa disadari (overflow incontinence)

  • Nafsu makan menurun

  • Berat badan sulit naik


Bagaimana Megakolon Didiagnosis?

Pemeriksaan dapat meliputi:

  • Foto polos abdomen

  • Enema kontras

  • Biopsi rektum (bila dicurigai Hirschsprung)


Prinsip Penanganan Sembelit Anak

Penanganan sembelit bukan terapi instan, tetapi proses jangka panjang yang memerlukan kerja sama anak, orang tua, dan Dokter.

Prinsip Utama:

  1. Mengeluarkan tinja yang tertahan

  2. Mencegah penumpukan ulang

  3. Membentuk kebiasaan BAB yang sehat

Pendekatan meliputi:

  • Edukasi keluarga

  • Pola makan tinggi serat dan cukup cairan

  • Toilet training terjadwal

  • Terapi laksatif sesuai indikasi medis

  • Monitoring jangka panjang


Penutup: Sembelit Bukan Masalah Sepele

Sembelit pada anak bukan sekadar soal jarang BAB. Dengan memahami kriteria Rome IV, mengenali tanda waspada, dan mewaspadai komplikasi seperti megakolon, orang tua dan tenaga kesehatan dapat mencegah dampak jangka panjang yang merugikan anak.

Penanganan yang tepat sejak dini akan membantu anak tumbuh sehat, nyaman, dan percaya diri.