Thumbnail
02 Juni 2025

3 Alasan Pria Sering Memendam Masalah Kesehatan Mental Mereka

“Pria tidak bercerita, tapi diam-diam merasakan beban hidup sendirian.”

“Pria tidak bercerita, tapi terus bekerja seolah segalanya baik-baik saja.”

Lebih dari sekadar tren, ungkapan tersebut di media sosial sebetulnya menyoroti kecenderungan pria yang kurang terbuka dalam masalah kesehatan mental. Namun, apakah benar bahwa semua pria memilih untuk diam? Atau mungkin ada alasan mendalam mengapa mereka sulit membicarakan kondisi mental? Mari kita bahas bersama-sama dalam artikel ini!

Apa Benar Pria Tidak Bercerita? 

Sebetulnya, tidak semua pria diam. Namun, memang banyak pria yang tidak bercerita tentang kesehatan mental mereka. Bukannya tidak mau, tapi karena mereka tidak tahu cara untuk melakukannya. Situasi ini pernah dibahas dalam penelitian berjudul Understanding major depressive disorder among middle-aged African-American men, yang diterbitkan dalam Journal of Advanced Nursing pada 2010.

Alasan Pria Menyembunyikan Masalah Kesehatan Mereka

Tentunya, ada alasan di balik keengganan para pria dalam menceritakan masalah kesehatan mental mereka. Berikut beberapa alasan yang umum dialami oleh kebanyakan pria:

  • Provider mindset

Banyak pria tumbuh dengan mencontoh ayah yang berperan sebagai provider keluarga. Di mata mereka, sosok ayah begitu kuat, pekerja keras, dan jarang mengeluh walaupun menghadapi tekanan berat. Jadi, saat para pria beranjak dewasa, mindset provider pun otomatis menjadi standar. 

Mereka merasa bertanggung jawab untuk mengusahakan segala sesuatu bagi pasangan dan anak. Saat mengalami tekanan atau kelelahan mental, mereka merasa tidak pantas untuk menceritakannya karena dulu ayah mereka terlihat diam.

  • Pola asuh masa kecil

Banyak pria di Indonesia yang sejak kecil diajarkan untuk tidak menunjukkan emosi. Curhat dianggap tidak maskulin, dan tangisan dipandang sebagai kelemahan. Kalimat seperti “kamu laki-laki, kamu harus kuat” atau “cowok tidak boleh menangis” pun jadi membatasi para pria dalam mengenali dan mengekspresikan emosi mereka.

  • Stigma kesehatan mental

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah pria di dunia yang meninggal karena bunuh diri lebih banyak daripada wanita. Namun, tingkat depresi pada pria justru cenderung lebih rendah. Situasi tersebut tidak terlepas dari stigma kesehatan mental di kalangan pria. Masih banyak masyarakat yang menilai pria tidak maskulin jika bercerita tentang kondisi mental, sehingga mereka cenderung enggan mencari bantuan.

Perbedaan Cara Ekspresi Emosi Pria dan Wanita

Faktor lain di balik kecenderungan pria dalam memendam masalah kondisi mental adalah cara mengekspresikan emosi yang berbeda dari wanita. Sudah banyak studi yang meneliti tentang hal ini, salah satunya berjudul “Sex differences in emotionality: a multidimensional approach”.

Berdasarkan hasil riset tersebut, wanita cenderung lebih intens dalam mengekspresikan emosi jika dibandingkan dengan pria. Sebaliknya, pria identik dengan norma-norma maskulinitas, yang mendorong mereka untuk tidak menunjukkan emosi sebanyak wanita.

Bahaya dari Terlalu Lama Memendam Emosi

Memendam emosi bukan berarti emosi tersebut akan hilang. Ia tetap ada, dan jika terus dibiarkan, emosi tersebut dapat berkembang menjadi stres kronis, burnout, bahkan hingga depresi.

Pada titik tertentu, bukan tidak mungkin tumpukan emosi yang dipendam tersebut juga akan meledak. Ledakan ini bisa keluar dalam bentuk sikap kasar, kemarahan, hingga tindakan impulsif. Akibatnya, hubungan dengan orang terdekat pun akan terganggu.

Tak hanya itu, masalah kesehatan mental juga dapat memengaruhi kondisi fisik. Tubuh akan ikut menanggung beban emosional sehingga merasakan sakit kepala, nyeri otot, masalah pencernaan, gangguan tidur, hingga penurunan sistem imun.

Cara Sehat Mengelola Emosi untuk Pria 

Kabar baiknya, tidak ada kata terlambat untuk mulai mengelola emosi secara sehat. Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah berani jujur pada diri sendiri. Saat merasa lelah, sedih, atau marah, akuilah bahwa Anda merasakan emosi tersebut. Hal ini dapat membantu Anda mendalami penyebab munculnya emosi, sehingga akan membantu proses pemulihan.

Kemudian, jika dirasa perlu, Anda bisa menceritakan masalah tersebut kepada orang yang Anda percaya. Namun, jika Anda merasa sungkan bercerita ke orang yang dikenal, atau mungkin kondisi mental Anda butuh perhatian lebih, sebaiknya segeralah konsultasi dengan psikolog profesional seperti  Tan Laurencia Yosita, S.Psi., M.Psi di SMC RS Telogorejo. 

Sama seperti tubuh yang butuh dokter saat sakit, emosi yang lelah pun butuh perawatan. Kehadiran psikolog mampu membantu Anda menemukan akar dari beban emosional dan memberikan strategi untuk mengatasinya. Jadi, bercerita tentang masalah kesehatan mental bukanlah kelemahan, tapi justru sebuah keberanian. 

Hubungi call center di nomor (024) 8646 6000 atau WhatsApp di nomor 081 6666 340. Alternatif lainnya adalah booking online melalui website SMC RS Telogorejo. Tak hanya itu, kini Anda juga bisa menjadwalkan konsultasi dengan psikolog melalui aplikasi mobile MySMC. Download aplikasinya melalui App Store atau Google Play Store!