Thumbnail
17 Juli 2025

6 Kalimat Sepele yang Berpengaruh pada Kesehatan Mental Anak

Kalimat yang terdengar biasa bagi orang dewasa bisa sangat membekas bagi anak, terutama di usia formatif saat otak mereka masih berkembang pesat dan sangat sensitif terhadap pengalaman emosional. Ucapan yang tampak sepele dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya, orang lain, dan dunia sekitar. Karena itu, penting bagi orang tua untuk lebih bijak dalam memilih kata. Berikut enam kalimat yang sebaiknya dihindari demi menjaga kesehatan mental anak!

Kalimat yang Pantang Diucapkan demi Kesehatan Mental Anak

Kalimat sepele bagi orang dewasa bisa berdampak besar pada kesehatan mental anak, jadi penting untuk menghindari ucapan berikut:

1. Kalimat yang membanding-bandingkan

Ucapan seperti “Coba lihat kakakmu, nilainya selalu bagus. Kamu kapan bisa seperti dia?” mungkin terdengar sepele bagi orang dewasa, tapi bagi anak-anak, kata-kata seperti itu bisa terasa sangat menyakitkan. Ucapan seperti ini membuat anak merasa tidak cukup baik dan seolah tidak dicintai sebagaimana orang lain. 

Mereka bisa tumbuh dengan perasaan rendah diri dan kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Dampaknya terhadap kesehatan mental anak bisa berlangsung lama, termasuk munculnya rasa minder dan enggan mencoba hal baru karena takut gagal memenuhi ekspektasi. 

2. Kalimat yang melabeli anak

Ucapan seperti "Kamu memang pemalas!" atau bahkan yang terdengar positif seperti "Kamu pasti bisa, kamu kan anak pintar" tampaknya tidak berbahaya. Namun, sebenarnya memberikan label semacam itu bisa berdampak negatif. Anak yang sering dilabeli negatif bisa merasa tidak berharga, sementara anak yang dilabeli positif bisa merasa tertekan untuk terus memenuhi ekspektasi. Dalam jangka panjang, keduanya dapat membentuk pola pikir yang tidak sehat dan memengaruhi kesehatan mental anak. 

3. Kalimat yang meremehkan anak

Kalimat seperti "Kamu itu bodoh, masa soal segini aja gak bisa!" atau "Udah diam aja, kamu gak ngerti apa-apa." secara langsung merendahkan anak dan menciptakan rasa tidak mampu dalam diri mereka. Ucapan seperti ini bisa merusak rasa percaya diri, menurunkan semangat belajar, dan membuat anak merasa tidak cukup baik. Jika terus berulang, hal ini bisa meninggalkan luka psikologis yang mengganggu kesehatan mental anak.

4. Kalimat yang mengabaikan perasaan anak

Saat anak menunjukkan emosi seperti sedih, marah, atau takut, respons orang tua seperti “Ah, segitu aja nangis,” bisa membuat perasaan anak terkesan tidak penting. Jika terus terjadi, anak cenderung merasa tidak didengar atau dianggap remeh. Lama-lama mereka enggan mengekspresikan perasaan dan menjauh secara emosional dari orang tua.

5. Kalimat yang menyalahkan emosi anak

Menyalahkan emosi muncul saat orang tua menilai emosi anak sebagai sesuatu yang salah, bukan perilakunya. Misalnya dengan berkata, “Kamu lebay banget sih!” atau “Cengeng banget, hal kecil aja nangis.” Ucapan seperti ini membuat anak malu mengekspresikan perasaan. Mereka jadi sulit mengenali dan mengelola emosi dengan sehat karena terbiasa menganggapnya sebagai sesuatu yang keliru.

6. Kalimat berisi ancaman

Ucapan seperti "Kalau kamu nakal lagi, Ibu tinggalkan kamu sendirian di sini!" mungkin dimaksudkan untuk menakut-nakuti agar anak menurut, tapi kenyataannya dapat merusak rasa aman anak secara emosional. Ancaman membuat anak merasa tidak dicintai secara utuh dan membentuk ketakutan mendalam terhadap kehilangan atau penolakan. Hal ini bisa menimbulkan rasa cemas, trauma, dan mengganggu kesehatan mental mereka dalam jangka panjang. 

Bagaimana Jika Saya Terlanjur Mengucapkannya?

Jika Anda terlanjur mengucapkan kalimat yang menyakitkan, jangan panik. Situasi seperti ini bisa terjadi, apalagi saat sedang lelah, stres, atau emosi. Yang penting adalah bagaimana Anda merespons setelah menyadarinya. Sampaikan permintaan maaf dengan sungguh-sungguh, dan buktikan niat untuk memperbaiki diri melalui tindakan nyata.

Misalnya, Anda bisa berkata, “Maaf tadi Ibu bilang kamu pemalas. Ibu sedang marah, tapi seharusnya tidak bicara seperti itu.” Sikap terbuka dan empati seperti ini membantu anak merasa dihargai dan mengajarkan kesalahan bisa diperbaiki dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Apabila anak mulai menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan mental seperti sering murung, menarik diri, mudah marah, atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasa disukai, sebaiknya jangan abaikan. Konsultasi dengan psikolog profesional dapat membantu memahami kondisi emosi anak dan memberikan penanganan yang tepat sejak dini.

Jika Anda membutuhkan bantuan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menjadwalkan sesi bersama dokter spesialis kesehatan jiwa di SMC RS Telogorejo. Silakan hubungi kami melalui call center (024 - 8646 6000) atau WhatsApp (081 6666 340). Anda juga bisa melakukan pemesanan online melalui website SMC RS Telogorejo atau aplikasi MySMC yang tersedia di iOS danAndroid.