Belakangan ini, Hantavirus kembali menjadi sorotan setelah berbagai media memberitakan virus ini sebagai ancaman yang berpotensi memicu gelombang pandemi baru setelah Covid-19. Beredarnya informasi tersebut membuat banyak masyarakat khawatir dan bertanya-tanya mengenai tingkat bahaya serta cara penularan Hantavirus yang sebenarnya.
Namun, benarkah Hantavirus dapat menyebar seperti Covid-19 dan menyebabkan pandemi global? Menurut dr. Theodorus Rinaldo, Sp.PD, FPCP dari SMC RS Telogorejo, Hantavirus memiliki karakteristik, sumber penularan, dan risiko yang berbeda dari virus penyebab Covid-19. Yuk, simak bagaimana sebenarnya Hantavirus menular dan apa saja yang perlu diwaspadai dalam artikel berikut!
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan dari hewan pengerat, seperti tikus liar dan tikus ladang, kepada manusia. Virus ini bukan penyakit baru, tetapi dapat menyebabkan kondisi serius seperti Sindrom Paru Hantavirus (HPS) yang memicu gangguan pernapasan hingga gagal napas, serta Demam Berdarah Dengue dengan Sindrom Ginjal (HFRS) yang dapat merusak fungsi ginjal.
Bagaimana Hantavirus Ditularkan?
Penularan Hantavirus umumnya terjadi melalui paparan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi, baik melalui udara, kontak langsung, maupun makanan dan minuman yang terkontaminasi. Sementara itu, penularan dari manusia ke manusia masih terhitung cukup langka, sehingga Hantavirus berisiko rendah menjadi pandemi global sebesar Covid-19.
Gejala Hantavirus
Gejala Hantavirus umumnya tidak langsung muncul setelah seseorang terpapar virus. Keluhan biasanya mulai dirasakan setidaknya 72 jam setelah virus masuk ke tubuh, bahkan dapat berkembang dalam rentang 1 hingga 8 minggu setelah paparan. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, serta mual dan muntah.
Infeksi Hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama. Yang pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan dapat berkembang menjadi batuk, sesak napas, serta penumpukan cairan di paru-paru. Yang kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih banyak menyerang ginjal, ditandai dengan demam tinggi, nyeri punggung bawah, mata kemerahan, hingga gangguan fungsi ginjal yang berisiko menyebabkan gagal ginjal akut.
Karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain pada tahap awal, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Cara Mencegah Hantavirus
Meskipun Hantavirus dapat menyebabkan penyakit yang serius, risiko penularannya dapat diminimalkan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan hewan pengerat yang menjadi sumber utama virus. Berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
1. Hindari kontak dengan tikus liar
Pencegahan Hantavirus berfokus pada mengurangi paparan terhadap hewan pengerat yang berpotensi membawa virus. Hindari kontak langsung dengan tikus, termasuk urine, kotoran, maupun air liurnya. Selain itu, pastikan lingkungan rumah tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus dengan menyimpan makanan dalam wadah tertutup, membuang sampah secara rutin, dan memasang perangkap tikus jika diperlukan.
2. Jaga kebersihan di rumah
Kebersihan lingkungan menjadi langkah penting untuk mencegah penularan Hantavirus. Saat membersihkan area yang diduga pernah menjadi sarang tikus, hindari menyapu kotoran kering karena partikel virus dapat beterbangan ke udara dan terhirup. Sebaiknya, basahi area tersebut terlebih dahulu dengan cairan disinfektan atau air sabun sebelum dibersihkan. Pastikan juga ruangan memiliki ventilasi yang baik dengan membuka pintu dan jendela sebelum proses pembersihan dimulai.
3. Waspadai lubang atau celah di rumah
Periksa secara berkala kondisi rumah dan segera tutup lubang, retakan, atau celah pada dinding, lantai, maupun atap yang dapat menjadi akses masuk tikus. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi risiko keberadaan hewan pengerat di dalam rumah dan mencegah paparan Hantavirus.
4. Kenakan masker saat membersihkan rumah
Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang pernah ditempati tikus, terutama gudang, loteng, atau ruangan yang lama tidak digunakan. Penggunaan alat pelindung diri dapat membantu mengurangi risiko menghirup partikel yang mungkin terkontaminasi virus serta melindungi dari kontak langsung dengan kotoran tikus.
Meskipun Hantavirus berisiko rendah menjadi pandemi sebesar Covid-19, gejalanya tetap tak boleh diremehkan. Jika Anda mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, atau gangguan pernapasan setelah kontak dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi kotoran tikus, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Penanganan yang cepat dapat membantu mencegah kondisi ini berkembang menjadi komplikasi serius yang menyerang paru-paru atau ginjal.
Jangan abaikan gejala yang muncul, terutama jika Anda memiliki riwayat terpapar hewan pengerat. Semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Segera jadwalkan konsultasi dengan dr. Theodorus Rinaldo, Sp.PD, FPCP atau lakukan pemeriksaan kesehatan di SMC RS Telogorejo melalui website resmi SMC RS Telogorejo maupun aplikasi MySMC yang tersedia di iOS dan Android.